Hadirilah! Lirboyo Bershalawat Bersama Habib Syekh dan Gus Azmi

Friday, March 09, 2018 0
Hadirilah dan nikmatilah shalawat yang dilantunkan oleh Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Segaf dan Gus Azmi dari Blitar, dia termasuk vokal dari grup shalawat Syubbanul Muslimin

Hadirilah! Lirboyo Bershalawat Bersama Habib Syekh dan Gus Azmi

Acara ini Insyaallah akan di gelar pada 15 Maret 2018 yang berlokasi di barat lapangan Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri pada pukul 19.30 WIB.

Hadirilah! Lirboyo Bershalawat Bersama Habib Syekh dan Gus Azmi

Acara ini memang agenda yang diadakan tiap tahun di Pondok Pesantren Lirboyo. Untuk agenda tahun ini dalam rangka Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur'an Lirboyo Kota Kediri.

Oh iya, jangan lupa berbaju putih, membawa alas duduk dan tidak membawa bendera besar.

Bagi semua warga Kediri dan sekitarnya, hadirilah dan nikmatilah lantunan sholawat yang merdu bersama Habib Syekh dan Gus Azmi ini. Insyaallah hati kita akan merasakan adem ayem tentrem. Jika kita mengaku umat Muhammad, bersholawatlah untuk beliau.

"Berkat sholawat, maksiat minggat..."

Itulah sedikit informasi yang semoga menjadikan manfaat untuk semuanya. Semoga kita termasuk umat yang selalu mencintai Allah dan selalu mencintai Rasulullah, serta kita juga termasuk umat yang dicintai Allah dan Rasulullah. Amiin

Cara Mudah Mengubah PDF ke PNG Online

Wednesday, January 24, 2018 0

Seiring berkembangnya waktu, semakin menuntut kita untuk bergerak lebih maju. Berbagai macam produk-produk teknologi disuguhkan kepada kita, salah satunya produk yang ditawarkan adalah aplikasi untuk mengubah file yang berformat PDF diubah menjadi PNG.

Cara Mudah Mengubah PDF ke PNG Online


Baru-baru ini muncul sebuah situs  untuk mengubah file PDF ke PNG secara online. Pengubah PDF online ini tentunya memudahkan kita untuk menyimpan dokumen PDF menjadi gambar PNG dengan gratis, kualitasnya terjamin dan ukuran gambar yang lebih baik dibandingkan konvetrter PDF ke gambar lainnya.

Caranya cukup mudah, ikuti langkah-langkah berikut ini...

1. Menuju situs PDF to PNG, klik << http://pdf2png.com/id/ >>

2. Klik tombol UNGGAH FILE terlebih dahulu dan pilih hingga 20 file PDF yang ingin diubah. Minum kopi dulu... ^_^ tunggu hingga proses konversi selesai.

3. Unduh hasilnya satu per satu atau langsung saja klik tombol UNDUH SEMUA dalam sebuah file ZIP.

Oh iya, selain mengubah ke PNG, juga bisa ke berbagai file lainyya juga hlo..
Semoga bermanfaat... ^_^

Strategi Pembelajaran Kontekstual

Saturday, November 18, 2017 0

Pendekatan kontekstual atau yang sering disebut dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam proses pembelajaran. 
Dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan keadaan dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.[1]
Pendekatan kontekstual lebih dimaksudkan suatu kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang lebih mengedepankan idealitas pendidikan sehingga benar-benar menghasilkan kualitas pembelajaran yang efektif dan efisien.[2]
Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.[3]
Pendekatan kontekstual mengasumsikan bahwa secara alami pikiran mencari makna konteks sesuai dengan kenyataan, dan hal itu bias terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal. Pemanduan materi pelajaran dengan konteks keseharian peserta didik di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan pengetahuan yang mendalam bagi peserta didik itu sendiri. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Pembelajaran ini menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari peserta didik dengan konteks di mana materi itu digunakan.[4]
Dalam pembelajaran kontekstual, pendidik harus menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar peserta didik, agar tidak terjadi pemaksaan kehendak. Pendidik perlu memandang peserta didik sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Kalaupun pendidik memberikan informasi kepada peserta didik, pendidik harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka. Tugas pendidik dalam pendekatan kontekstual yakni membuat peserta didik lebih mudah mempelajari suatu materi pelajaran, dengan menyediakan berbagai media dan sumber belajar yang memadai. Pendidik tidak hanya menyampaikan materi lewat ceramah saja, namun pendidik juga mengatur lingkungan dan strategi pembelajarannya. Lingkungan belajar yang kondusif sangat berperan dalam pelaksanaan pendekatan kontekstual, dan tercapainya tujuan pembelajaran.[5]

 Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual


Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi dari proses menemukan dan mengkonstruksi sendiri, maka guu harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi semata, akan tetapi ada proses membangun pengetahuan melalui share dan diskusi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme yang aktif serta memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna utuk kehidupan mereka.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas (komponen). Asas-asas inilah yang melandasi pelaksanaan pembelajarann kontekstual (CTL), yaitu:[6]


1. Constructivism

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman.

2. Inkuiri

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.

3. Questioning

Hakikat dari belajar adalah bertanya dan menjawab. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seorang dalam berpikir.

4. Learning Community

Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah.

5. Modeling

Proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberi contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi guru juga bisa memanfaatkan peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan.

6. Reflection

Berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima

7. Authentic Assessment

Proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.


Elemen Belajar Konstruktif


Terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual.

1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).

2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.

3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami.

4. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).

5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.[7]

 Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual


Secara garis besar, langkah-langka yang arus ditempuh dalam pembelajaran kontekstual.[8]

1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya.

4. Menciptakan masyarakat belajar.

5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.

7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.





[1] Mulyono, Strategi Pembelajaran; Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abad Global, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), 41.
[2] Saekhan Muchith, Pembelajaran Kontekstual, (Smarang: RaSAIL Mdia Group, 2008), 2.
[3] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual; Konsep dan Aplikasinya, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),  7.
[4] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), 107.
[5] E. Mulyasa, Kurikulum yang Disempurnakan; Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 218.
[6] Hamruni, Konsep Dasar dan Implementasi Pembelajaran Kontekstual. (Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. XII, No. 2, Desember 2015), 181-184.
[7] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), 256.
[8] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), 229-230.

Pendekatan Supervisi Artistik

Saturday, November 18, 2017 0




Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), juga suatu kiat (art). Selaras dengan tugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan, dan juga suatu kiat.

Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working fot the others), bekerja dengan orang lain (working the others). Dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan manusia dapat tercipta bila ada kerelaan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling percaya saling mengerti, saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seseorang sebagaimana adanya. Hubungan tampak melalui pengungkapan bahasa, yaitu supervisi lebih banyak. Dalam hal ini maka memerlukan pendekatan supervisi artistik.[1]


Pendekatan Supervisi Artistik

Pendekatan artistik berkembang sebagai akibat ketidakpuasan terhadap pendekatan ilmiah. Mengkritik kelemahan pendekatan ilmiah secara internal, yang disinyalir gagal karena menggeneralisasikan pengajaran yang tampak sebagai keseluruhan peristiwa pengajaran. Pendekatan artistik berupaya menerobos keterbatasan pendekatan ilmiah, menjangkau latar psikologi dan sosiologi pelakunya. Manusia secara psikologi berbeda, mengharuskan penyelamannya pun juga berbeda-beda.

Pendekatan Supervisi Artistik: Kelebihan dan Kekurangan


Pendekatan artistik melihat berhasil tidaknya pengajaran, usaha meningkatkan mutu guru banyak menekankan pada kepekaan, persepsi, dan pengetahuan supervisor sebagai saran untuk meangpresiasi kejadian pengajaran yang bersifat subleties (halus, lembut) dan sangat bermakna di dalam kelas. Supervisor diharapkan dapat mengapresiasi kejadian pengajaran yang bersifat ‘subtleties’ (lembut). Pengajaran di dalam kelas dengan demikian terlihat secara ekspresif, puitis, dan bahkanmenggunakan bahasa simbol dan kiasan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan pengajaran di dalam kelas diamati secara teliti.
Pendekatan artistik menempatkan supervisor sebagai instrumen observasi dalam mencari data untuk keperluan supervisi. Oleh karena supervisor sendiri yang berperan sebagai instrumennya, maka dialah yang membuat pemaknaan terhadap pengajaran yang berlangsung.[2]

Argumen Penyangga Pendekatan Artistik

Pendekatan artistik merupakan wujud ketidakpuasan pendekatan ilmiah, maka argumen penyangga ialah kelemahan pendekatan ilmiah.[3]
Kelemahan
Deskripsi
Sering terjadi kesalahan kesimpulan
Kejadian-kejadian tertentu disimpulkan sebagai kesuksesan pengajaran. Pembinaan terhadap guru lebih diarahkan pada perilaku guru yang secara umum dapat meningkatkan mutu pengajaran misalnya memberi penguatan terhadap siswa, memberi contoh yang konkret.
Kesalahan Komposisi
Kualitas pengajaran lebih dilihat dari penjumlahan skor vaiabel-variabel, indikator-indikator yang ada, dicari rata-rata hitungnya. Kalau beberapa skor indikator sangat tinggi, sementara skor indikator yang lain sangat rendah, dihitung rata-ratanya hitungnya maka hasilnya bias.
Kesalahan Pengongkretan
Pendekatan ilmiah mengacu pada tampilam-tampilan yang tampak, Supervisor membantu guru didasarkan pada perilaku yang tampak pada diri guru. Padahal sistem pengajaran merupakan perpaduan komponen fisik dan psikis.
Kesalahan Urus
Seringkali urusan pengajaran hanya dibatasi pada peristiwa yang ada di dalam kelas saja, sementara peristiwa di luar kelas tidak mendapat perhatian.

Ciri-ciri Pendekatan Supervisi Artistik

a.         Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
b.         Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup
c.         Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda
d.        Menuntut unruk member perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas
e.         Memerlukan suatu kemampuan berbahasa dalam cara mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu
f.          Memerlukan kemampuan untuk menafsir makna dari peristiwa yang diungkapkan[4]

Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Supervisi Artistik

Meskipun pendekatan ini dibilang cukup menarik, namun juga memilikimkelebihan dan kekurangan.[5]

Kelebihan
Kekurangan
Dalam melihat fenomena pengajaran dicermati secara teliti, halus, dikaitkan dengan gejala lain. Peristiwa yang sama mungkin memiliki penyebab yang berbeda, sehingga pembinaan yang dilakukan bisa berbeda, sesuai dengan persepsi supervisor.
Tidak semua supervisor mampu mengapresiasikan fenomena secara tepat. Mungkin dari segi waktu juga agak lama.

Rujukan

Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2011.
Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.




[1] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2011), 109.
[2] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2.
[3] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 3.
[4] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2011), 109.
[5] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 3.

Multimedia Learning Dalam Pembelajaran

Friday, September 22, 2017 1
Multimedia Learning Dalam Pembelajaran - Secara umum multimeida berhubungan dengan penggunaan lebih dari satu macam media untuk menyajikan informasi. Misalnya video musik adalah bentuk multimedia karena menggunakan audio dan video. Berbeda dengan rekaman musik yang hanya menggunakan audio sehingga disebut monomedia.




Mutlimedia berasal dari kata multi dan media. Multi berasal dari bahasa Latin, yaitu nouns yang berarti banyak atau bermacam-macam. Sedangkan kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medium yang berarti perantara atau sesuatu yang dipakai untuk menghantarkan, menyampaikan, atau membawa sesuatu.[1]

Karakteristik Multimedia Learning

Penggunaan multimedia dalam pendidikan mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain, diantara keistimewaan itu adalah:[2]

a. Multimedia dalam pendidikan berbasis komputer;
b. Multimedia mengintegrasikan berbagai media (teks, gambar, suara, video dan animasi) dalam satu program secara digital;
c. Multimedia menyediakan proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;
d. Multimedia memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan materi pelajaran;
e. Multimedia memberikan kemudahan mengontrol yang sistematis dalam pembelajaran.

Prinsip-prinsip Multimedia Learning

Menggunakan multimedia pembelajaran dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:[3]

1. Sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran yang tercantum dalam garis-garis program pembelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum yang berlaku di sekolah.
2. Memberikan pengertian dan penjelasan tentang suatu konsep.
3. Mendorong kreativitas peserta didik dan memberikan kesempatan peserta didik untuk bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri).
4. Memenuhi unsur kebenaran dalam ukuran, ketelitian,dan kejelasan untuk menghindari kesalahan pengertian tentang sesuatu yang digambarkan atau dijelaskan melalui multimedia pembelajaran tersebut.
5. Multimedia pembelajaran harus aman dan tidak membahayakan peserta didik atau pendidik.
6. Multimedia pembelajaran menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi peserta didik untuk menggunakannya.
7. Memenuhi unsur keindahan dalam bentuk, warna, dan kombinasinya, serta rapi pembuatannya.
8. Mudah digunakan, baik oleh pendidik maupun peserta didik.
9. Penggunaan multimedia pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran tidak sekaligus dipertunjukkan kepada peserta didik melainkan bergantian sesuai materi yang dijelaskan.
10. Multimedia pembelajaran yang digunakan merupakan bagian dari materi pembelajaran yang sedang dijelaskan bukan sebagai selingan atau alat hiburan.
11. Peserta didik mempunyai tanggung jawab dalam menggunakan multimedia pembelajaran.
12. Multimedia pembelajran lebih banyak berisikan materi yang mengandung pesan positif dibandingkan pesan negatif.

Metode pengajaran dan pembelajaran berbantuan komputer telah mulai diperkenalkan dan kini dengan era teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat. Aplikasi multimedia adalah aplikasi yang dirancang serta dibangun dengan menggabungkan elemen-elemen seperti teks atau dokumen, suara, gambar, animasi dan video.

Multimedia akan membantu peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif dalam belajhar, serta menjadikan pendidik sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan kepada peserta didik.

Berikut ini merupakan beberapa aplikasi multimedia yang biasa diguanakn dalam bidang pendidikan:[4]

1. Kamus Multimedia Elektronik
Kamus multimedia elektronik merupakan salah satu contoh bagaimana multimedia bisa digunakan untuk tujuan pendidikan. Berbeda dengan kamus biasa, kamus multimedia elektronik akan memaparkan makna sesuatu istilah yang dikehendaki dengan menggunakan berbagai media dukungan.

2. Eksperimen
Penggunaan media seperti video dan animasi dalam melakukan proses ujicoba atau eksperimen memungkinkan peserta didik memahami dan seterusnya menguasai konsep yang diperlukan dengan lebih mudah.

3. Simulasi Proses Kerja
Simulasi merujuk kepada suatu keadaan sebuah lingkungan. Terdapat berbagai jenis aplikasi yang memanfaatkan teknik simulasi yang bisa digunakan dalam tujuan pendidikan. Simulasi penerbangan yang sering digunakan dalam latihan sistem penerbangan merupakan contoh penggunaan simulasi proses kerja.

4. Bahan Sejarah
Belajar sejarah juga menjadi lebih mudah dengan bantuan multimedia. Bahan-bahan sejarah bisa direkayasa untuk menghasilkan tampilan menjadi lebih hidup dengan menggabungkan konsep gambar, animasi, dsb.

5. Sumber Rujukan Elektronik
Sumber rujukan elektronik merupakan contoh penggunaan multimedia yang paling meluas digunakan. Ensiklopedia, tutorial interaktif, buku elektronik dan sebagainya merupakan beberapa contoh bagaimana multimedia bisa digunakan sebagai sumber rujukan elektronik.

6. Pendidikan Permainan dan Hiburan
Permainan yang disajikan tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktivitas belajar sambil bermain. Permainan berbentuk seperti ini mampu merangsang pemikiran peserta didik dalam proses pencarian informasi atau menyelesaikan masalah. Ini menjadikan proses belajar sesuatu yang menyenangkan dan bukan lagi dianggap sesuatu yang memberatkan.


[1] Munir, Multimedia: Konsep dan Aplikasi dalam Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2013), 2.
[2] Munir, Multimedia..., 24-25.
[3] Munir, Multimedia..., 157-158.
[4] Munir, Multimedia..., 38-43.