Aliran-Aliran Teologi Dalam Islam




Sejarah Munculnya Teologi Islam

Awal sejarah munculnya pemikiran dalam Islam bermuara pada persoalan politik.Memang cuku membingungkan, kenapa masalah pertama yang muncul justru persoalan politik bukan persoalan keagamaan.

Bahwasanya telah diketahui, ketika Nabi Muhammad migrasi ke Madinah tidak hanya sebagai pemimpin agama, melainkan sekaligus merangkap sebagai pemimpin negara. Beliaulah yang pertama kali mendirikan kekuasaan politik yang dipatuhi di zamannya.Kekacauan mulai muncul setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat mempermasalahkan pemimpin pengganti beliau demi berlangsungnya kepemerintahan.

Dalam menentukan pengganti terjadi perundingan yang hingga pada akhirnya sahabat Abu Bakar terpilih sebagai khalifah. Kemudian dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka berempat inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Khulafa ar-Rasyidun.

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar dan Umar pemerintahan berjalan dengan baik dan keadaan politik cukup tenang.Namun pada kekhalifahan Utsman aroma politik mulai muncul kembali, pihak keluarga Bani Umayah menggerogoti kepemimpinannya dengan harapan mendapatkan kedudukan dan fasilitas.

Kebijaksanaan kepemimpinan Utsman menimbulkan rasa tidak simpatik terhadap dirinya.Kalangan sahabat dan rakyat tidak senang dengan kebijakannya dan melakukan aksi protes yang akhirnya berakibat fatal, Utsman terbunuh dalam aksi ini.

Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi Utsman sebagai khalifah. Keadaan politk semakin kacau sejak terbunuhnya Utsman, berbagai pihak menuntut Ali untuk mengusut pembunuh Utsman.Awalnya dari pihak Aisyah, Thalhah, dan Zubair terjadi perang saudara yang dikenal dengan perang Jamal.

Dari pihak Muawiyah juga menuntut Ali untuk menuntaskan misteri kasus pembunuhan Utsman yang berakhir dengan perang Shiffin. Dalam perang tersebut terjadi tahkim dari pihak Muawiyah, dari pihak Ali yang menerima tahkim dikenal dengan Syiah (pengikut Ali) dan yang tidak setuju dengan tahkim disebut Khawarij (tidak setuju dengan Muawiyah dan Ali).

Peristiwa tersebut merupakan awal mula munculnya aliran dalam Islam, yang mana akan berlanjut pada aliran-aliran selanjutnya.



Al-Khawarij

Wafatnya Nabi Muhammad membuat kalangan umat Islam kehilangan pemimpin yang dapat menyelesaikan segala persoalan.Pemimpian selanjutnya digantikan oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ali tampil ke pentas politik menggantikan Utsman.

Namun pengangkatan Ali ini ditolak oleh beberapa tokoh terkemuka, seperti Thalhah dan Zubair dengan dukungan politik Aisyah.Pertempuran berkobar yang dikenal dengan perang Jamal.

Komplotan oposisi lain yang dipimpin oleh Muawiyah menolak kekhalifahan Ali dan menuntutnya gerombolan pembunuh Utsman. Hingga pada akhirnya terjadi pertempuran yang dikenal dengan perang Shiffin.

Tragedi perang Shiffin antara pengikut Ali dengan pengikut Muawiyah telah menggeser persoalan politik menjadi persoalan teologis.Katika pertahanan Muawiyah mulai terdesak akibat serangan pasukan Ali, pihak Muawiyah melakukan gencatan senjata, mengajak damai atau menawarkan tahkim dengan mengangkat Mushaf.

Peristiwa itu membuat pasukan Ali retak, ada yang setuju dan ada yang menolak.Namun akhirnya Ali menyetujui tahkim yang merupakan strategi licik pihak lawan untuk menjatuhkannya.Ini membuat kelompok yang tidak setuju keluar dari barisan Ali, yang dikenal dengan sebutan al-Khawarij.

Mereka menganggap Ali tidak menyelesaikan masalah dengan hukum Allah yang terdapat dalam al-Quran, maka dari itu mereka menganggap Ali telah kafir.

Mereka memiliki dalil sebagai berikut.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ



“Dan barang siapa yang tidak menghukumi dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang kafir.”

Seiring berjalannya waktu, al-Khawarij terjadi perpecahan.

1. Al-Muhakimah

Berpendapat bahwa Ali, Muawiyah, Amr bin al-Ash, Abu Musa al-Asy’ari dan orang-orang yang terlibat dalam tahkim dianggap bersalah dan kafir.

2. Al-Azariqah

Sekte yang paling ekstrem di antara sekte-sekte yang lain. Keekstreman ajaran mereka terletak pada ketentuan akfir menjadi musrik.Prinsip ajaran mereka sebagai berikut.

a. Muslim yang melakukan dosa besar menjadi musrik.

b. Orang musrik halal dibunuh dan kekal dalam neraka.

c. Wanita dan anak-anak yang tak sekelompok halal dibunuh.

d. Pencuri dhukum potong tangan.

e. Praktik taqiyah (menyembunyikan sikap) dilarang baik lisan dan perbuatan.

f. Hukum rajam tidak diterapkan kepada pezina, karena tidak tercantum dalam al-Quran.

g. Orang yang beda oaham halal untuk dibunuh.

3. An-Najdat

Pemisahan ini disebabkan karena mereka tidak sependapat dalam kemusyrikan orang yang tidak mau berhijrah dan menghalalkan darah anak-anak dan istri orang Islam yang tidak sepaham.Pokok-pokok ajaran mereka sebagai berikut.

a. Orang yang berbuat dosa besar menjadi kafir dan kekal dalam neraka bila tak sepaham dengannya. Sebaliknya, orang golongannya yang berbuat dosa besar tetap masuk surge meski melalui siksaan tapi tidak masuk neraka.

b. Dosa kecil akan menjadi besar bila sudah terbiasa dan termasuk musyrik.

c. Diperbolehkan taqiyah untuk keselamatan diri.

d. Ahlu Zimmah yang berdiam dengan musuk kelompok an-Najdat halal dibunuh.

e. Yang menolak ikut berhijrah dan berperang tidak kafir.

f. Kewajibaban setiap muslim untuk mengetahui Allah dan Rasul-Nya.

4. Al-‘Ajaridah

Kelompok ini dikafirkan oleh umat Islam karena penolakan atas surat Yusuf dengan alasan berbau seks dan tak pantas. Pokok ajaran mereka sebagai berikut.

a. Harta boleh dijadikan rampasan hanya dari orang yang terbunuh dan boleh membunuh musuh.

b. Anak-anak orang musyrik tidak otomatis menjadi musyrik

c. Hijrah bukan kewajiban tapi kebajikan

5. Al-Sufriyah

Pemikiran kelompok ini dekat dengan al-Azariqah, namun tidak terlalu ekstrem.Pokok-pokok ajaran mereka sebagai berikut.

a. Yang tidak berhijrah tidak kafir.

b. Tidak berpendapat anak-anak kaum musyrik boleh dibunuh.

c. Tidak semua yang berbuat dosa besar menjadi musyrik.

d. Daerah yang tidak sepaham bukan dianggap sebagai daerah perang tapi terbatas pada pertahanan pemerintah. Anak-anak dan wanita tidak boleh dijadikan tawanan.

e. Kafir terbagi dua, yaitu kafir yang mengingkari rahmat Tuhan dan kafir mengingkari Tuhan.

f. Taqiyah diperbolehkan secara lisan bukan secara perbuatan.

g. Wanita Islam diperbolehkan kawin dengn pria kafir di daerah bukan Islam.

6. Al-Ibadiyah

Kelompok ini dianggap yang paling moderat di antara kelompok lain. Paham-paham mereka sebagi berikut.

a. Orang yang tidak sepaham dengan mereka disebut kafir bikmat, bukan mukmin dan bukan musyrik

b. Berbuat dosa besar disebut orang yang mengesakan Tuhan tapi tidak mukmin, ia kafir nikmat dan bukan kafir millah. Dosa besar tidak membuat orang keluar dari Islam.

c. Kesaksian orang kafir nikmat dapa diterima, perkawinan dan melaksanakan warisan diperbolehkan.

d. Yang boleh dirampas dalam peperangan hanyalah kuda dan senjata, sedang emas dan perak harus dikembalikan kepada pemiliknya.

e. Mereka tidak memperbolehkan merokok, mendengar music, pertandingan, kemewahan, dan hidup membujang



Syiah

Syi’ahadalahsekteyang menolak kepemimpinan dari tiga Khalifahsebelum Ali bin Abi Thalib, Namun, Syi'ah Zaidiyyah termasuk Syi'ah yang tidak menolak kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.

Mereka menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah yang paling utama di antara para sahabat dan yang berhak untuk memegang kepemimpinan atas kaum Muslim, demikian pula anak cucunya.

Syi'ah dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran.Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan.Syi'ah percaya bahwa keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.

Mereka memiliki dalil sebagai berikut.

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Siapa yang aku menjadi walinya maka selayaknya Ali menjadi walinya.”



Secara khusus, Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad. Menurut keyakinan Syi'ah, Ali berkedudukan sebagai khalifah dan imam melalui washiat Nabi Muhammad.

Syi'ah memiliki lima perkara pokok, yaitu:

1. Tauhid

2. Al-‘Adl

3. An-Nubuwwah

4. Al-Imamah

5. Al-Ma'ad

Syi'ah dalam sejarahnya terpecah-pecah dalam masalah Imamiyyah.Sekte terbesar adalah Itsna 'Asyariah, diikuti oleh Zaidiyyah dan Ismailiyyah.Ketiga kelompok terbesar itu mengikuti garis yang berbeda Imamiyyah sebagai berikut.

Itsna 'Asyariah percaya bahwa yang berhak memimpin kaum Muslim hanyalah para Imam dari Ahlul-Bait, dan mereka meyakini adanya dua belas Imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah.

Urutan Imamnya adalah:

1. Ali bin Abi Thalib

2. Hasan bin Ali

3. Husain bin Ali

4. Ali bin Husain

5. Muhammad bin Ali

6. Jafar bin Muhammad

7. Musa bin Ja'far

8. Ali bin Musa

9. Muhammad bin Ali

10. Ali bin Muhammad

11. Hasan bin Ali

12. Muhammad bin Hasan

Zaidiyyah merupakan pengikut Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:

1. Ali bin Abi Thalib

2. Hasan bin Ali

3. Husain bin Ali

4. Ali bin Husain

5. Zaid bin Ali

Ismailiyyah meyakini tujuh Imam, dan mereka percaya bahwa Imam ketujuh ialah Isma'il. Urutan Imamnya adalah:

1. Ali bin Abi Thalib

2. Hasan bin Ali

3. Husain bin Ali

4. Ali bin Husain

5. Muhammad bin Ali

6. Ja'far bin Muhammad bin Ali

7. Ismail bin Ja'far



Murji'ah

Murji'ah adalah aliran dalam Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan aliran al-Khawarij.Dalam hal ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan al-Khawarij.

Murji'ah sendiri berarti penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah kelak. Sehingga, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.

Adapun ajaran-ajaran pokok Murji'ah yaitu engakuan iman cukup hanya dalam hati.Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari.Selama meyakini dua kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir.Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.



Muktazilah

Muktazilah muncul bermula dari tindakan Wasil bin Atha' berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha' berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik. Wasil bin Atha' berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.

Ajaran Mu'taziliyah kurang diterima oleh kebanyakan ulama Sunni karena aliran ini beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi. Oleh karena itu, penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Alquran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim. Muktazilah memiliki lima ajaran utama yang disebut ushul al-khamsah, yakni :

1. Tauhid.Mereka berpendapat sifat Allah adalah zat-Nya itu sendiri.Al-Quran adalah makhluk.Allah di akhirat kelak tak terlihat mata manusia.

2. Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allahakan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.

3. Janji dan Ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.

4. Manzilah Baina Manzilatain. Ini dicetuskan Wasil bin Atha' yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.

5. Amar Ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan Nahi Munkar (mencegah perbuatan yang tercela).

Aliran Muktazilah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.

Sejarahnya munculnya aliran ini pada saat Imam Hasan al-Basri sedang mengajar di Masjid, ada seseorang bertanya tentang para pendosa, apakah masih beriman atau telah kafir.Diapun diam sejenak untuk berfikir. Saat itulah Wasil bin Atha' menjawab bahwa para pendosa berada di antara mu'min dan kafir.

Kemudian ia membentuk jamaah baru di sudut lain masjid. Imam Hasan al-Basri berkata “Ia telah i'tizal (mengasingkan diri) dari kita”.Jadi mu'tazilah adalah orang yang mengasingkan diri dari Imam Hasan al-Basri, sesuai dengan perkataan dia tersebut.

Adapun tokoh-okoh Muktazilah yang terkenal adalah :

1. Wasil bin Atha'

2. Abu Huzail al-Allaf

3. An-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.

4. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahabal-Jubba’i



Qadariyah dan Jabariyah

Qadariyah memiliki keyakinan mengingkari takdir, yaitu bahwasanya perbuatan makhluk berada di luar kehendak Allah dan juga bukan ciptaan Allah.

Para makhlukberkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri dan makhluk sendirilah yang menciptakan amal dan perbuatannya sendiri tanpa adanya andil dari Allah.

Mereka memiliki dalil.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”



Pemikiran aliran ini mengingkari takdir.Yakni tidak ada takdir, semua perkara yang ada merupakan sesuatu yang baru (terjadi seketika), di luar takdir dan ilmu Allah.Allah baru mengetahuinya setelah perkara itu terjadi.

Pelopornya sekte ini adalah Ma'bad al-Juhani, seorang penduduk kota Bashrah dan muridnya Ghailan ad-Dimasyqi. Paham ini tersebar di Bashrah dan mempengaruhi banyak penduduknya ketika tokoh kota tersebut.

Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.

Dalil-dalil sebagai dasar aliran Jabariyah

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـكِنَّ اللّهَ رَمَى

“...dan bukan kamu melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang

melempar.”

Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah.Maksudnya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya.

Keyakinan Jabariyah berlawanan dengan keyakinan Qadariyah.



Ahlussunnah

Ahlussunnah dipelopori oleh dua imam yaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’aridan Imam Abu Manshur al-Maturidi yang menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash al-Quran dan as-Sunnah) dan dalil-dalil aqli (argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan mu’tazilah, khawarij dan ahli bid’ah lainnya.

Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya, mereka dikenali dengan nama al-Asy’ariyah (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyah (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah.Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling berhujjah dan berdebat atau saling menyesatkan.

Maka aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah.Karena keduanya telah merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah dan menjelaskan cara beraqidah.Ahlusssunnah diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta Hanbali.



Wahabi

Wahabi dikembangkan oleh seorang teolog Muslim yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang bertujuan untuk membersihkan dan menyempurnakan ajaran Islam kepada ajaran yang sesungguhnya berdasarkan al-Qur'an dan al-Hadits dari ketidakmurnian seperti praktik-praktik bid'ah, syirik dan khurafat.

Wahabi adalah bentuk dominan dari Islam di Arab Saudi. Wahabi telah mengembangkan pengaruh yang cukup besar di dunia muslimdalam pendanaan masjid Arab Saudi, sekolah dan program sosial. Paham utama Wahabi adalah tauhid, keesaan dan kesatuan Allah.

Ibnu Abdul Wahhab dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Ibnu Taymiyyah dan mempertanyakan interpretasi klasik Islam yang mengandalkan al-Quran dan hadits. Ia menyerang sebuah kemerosotan moral yang dirasakan dan kelemahan politik di Semenanjung Arab dan mengutuk penyembahan berhala, kultus populer orang-orang kudus, menjadikan kuil kuburan orang yang saleh, dan dia melarang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadahan.

Wahabi merupakan aliran dalamIslam yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari ajaran-ajaran atau praktik-praktik yang menyimpang seperti syirik, ilmu hitam, penyembahan berhala, bid'ah dan khurafat.

Wahabi ini merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada Ahlussunnah, mereka suka mengkafirkan kaum muslimin, memberontak kepada pemerintahan, dan sangat jauh dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sedangkan Wahabi yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Ahlussunnah yang berkeyakinan segala dosa diampuni oleh Allah dan tunduk pada pemerintahan kaum Musliminin, dan ia tidak memiliki pemikiran khawarij, bahkan ia adalah pembela tauhid.



Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah sekte dalamislampara pengikut Mirza Ghulam Ahmad.Mirzamenyatakan dirinya mendapat wahyu dari Allah dan mengklaim dirinya sebagai juru selamat atau al-Mahdi dengan memberi petunjuk supaya umat manusia berbaiat kepadanya.Kemudian mengklaim lagi bahwa dirinya sebagai al-Masih al-Mau’ud (al-Masih yang dijanjikan).

Ahmadiyah ini memiliki dalil.

مَاكَانَمُحَمَّدٌأَبَاأَحَدٍمِنْرِجَالِكُمْوَلَٰكِنْرَسُولَاللَّهِوَخَاتَمَالنَّبِيِّينَ

“Bukanlah Muhammad itu bapak bagi seseorang lelaki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi”



Mereka memaknai lafad خَاتَمَberarti cincin.

Sehingga ajaran tentang kenabian ini menimbulkan dua penafsiran di kalangan Ahmadiyah, hingga pada akhirnya Ahmadiyah terpecah menjadi dua sekte.Pertama, mereka yang menganggap Mirza sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad.Kedua, mereka menafsirkan bahwa Mirza adalah seorang pembaharu (mujaddid).

Karena mereka berbeda pendapat tentang status Mirza menajdi seorang Nabi atau tidak.Ahamadiyah ini terpecah menjadi dua sekte, yaitu.

Ahmadiyah Qadian, di Indonesai dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang berpusat di Jogjakarta dan Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia berpusat di Bogor.



Tokoh Teologi Modern : Muhammad Abduh

Muhammad Abduh adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam.

Muhammad Abduh belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamaluddin al-Afghani, seorang filsuf dan pembaru yang mengusung gerakan Pan Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.

Muhammad Abduh mengembangkan sistem pendidikan Islamdan salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid.

Muhammad Abduh berpendapat, Islam akan maju bila umatnya mau belajar, tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu sains.

Muhammad Abduh berpendapat bahwa jalan yang digunakan untuk mengetahui Tuhan bukanlah melalui wahyu saja tetapi juga dengan akal. Dengan kekuatan akal yangada dalam diri manusia, manusia berusaha mengetahui tentang adanya Allah. Pengetahuan yang sudah diperoleh oleh akal, kemudian diperkuat dengan turunnya wahyu kepada manusia melalui perantaraan utusan Allah, yakni para Nabi dan Rasul.

Muhammad Abduh juga berpendapat bahwa akal dapat mengetahui hal seperti dibawah ini.

1. Tuhan dan sifat-sifatnya

2. Keberadaan hidup Akhirat

3. Kebahagiaan jiwa di akhirat tergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedangkan kesengsaraan bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan melakukan perbuatan jahat

4. Kewajiban manusia mengenal Tuhan

5. Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiaan di akhirat

Tokoh Teologi Kontemporer : Hasan Hanafi

Pemikiran Hasan Hanafi bertolak dari penjelajahan iman dan intelektualnya dalam menghidupkan kembali semangat Ilmu kalam dari iman ke nalar hingga menuju aksi. Proyek penjelajahan tersebut dia sebut dengan at-Turats wa at-Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan). Salah satu karya monumentalnya adalah Min al-‘Aqidah ila al-Tsawrah (Dari Akidah ke Revolusi).

Hasan Hanafi merombak isu-isu teologis dengan hal yang bernuansa teosentris, menjadi isu problema kemanusiaan yang bernuansa antroposentris. Bahkan dengan latar belakang kehidupannya yang dibesarkan di tengah revolusi yang terampas, Hasan hanafi malah mengobarkan revolusi dari akidah.

Pemikiran teologi islam Hasan Hanasi bertujuan untuk menjadikan teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong, tetapi menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia.

Hasan Hanafi berupaya mengubah warisan islam yang telah usang menjadi konstruksi yang sesuai dengan tuntunan Zaman. Mengadopsi peradaban Barat dan dilewatkan jalan penyaringan yang sesuai dengan tingkat kewajaran sehingga tidak bertentangan dengan Islam.

Hanafi secara besar-besaran melakukan rekonstruksi ulang terhadap bangunan teologi umat Islam. Hanafi membongkar berbagai problem teologi yang menghambat kesejahteraan dan kemajuan umat islam, kemudian memberikan langkah ideal dalam menyikapi hal tersebut.



















Pluralisme Agama

Pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama-sama antar agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik (ajaran agama masing-masing)

Pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.

Adapun dalil-dalil pluralism agama.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah.”



Pluralisme agama dapat terjaga dan terpelihara dengan baik, apabila pemahaman agama yang cerdas dimiliki oleh setiap pemeluk agama. Antar umat beragama perlu membangun dialog dan komonikasi yang intens guna untuk menjalin hubungan persaudaran yang baik sesama umat beragama. Dengan dialog akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat, yaitu toleransi dan pluralisme.

Pokok-pokok pruralisme

1. Menghargai

2. Mengormati

3. Memahami

4. Mengakui

Pluralisme agama yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:

1. Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.

2. Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.

3. Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.

4. Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda.





Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon