Faktor-Faktor Pendidikan

Faktor-Faktor Pendidikan

Faktor adalah hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Apabila faktor disandingkan dengan pendidikan yakni faktor pendidikan berarti hal yang mempengaruhi proses pendidikan.



Lebih jelasnya, faktor-faktor pendidikan merupakan berbagai unsur yang menunjang kedalam tujuan atau goal yang akan di capai dalam pendidikan. Unsur-unsur tersebut penting fungsinya karena dapat menunjang dalam sebuah tujuan secara berkesinambungan dan sistematik.



Macam-macam Faktor Pendidikan

Dalam proses perkembangan pemikiran pendidikan di dunia Barat (Hasbullah, 2012: 8), kegiatan pendidikan berkembang dari konsep paedagogi (bersifat mendidik), andragogi (ilmu tentang cara orang dewasa belajar), dan education (pendidikan).

Dalam melaksanakan pendidikan, perlu diperhatikan adanya faktor-faktor pendidikan yang ikut menentukan keberhasilan pendidikan tersebut.

1. Peserta Didik

Dalam pengertian umum (Barnadib, 1979: 39), anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedang dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik.

Karena itulah anak didik memiliki beberapa karakteristik (Meichati, 1976: 26), diantaranya:

a. belum memiliki pribadi dewasa sehingga masih menjadi tangung jawab pendidik.

b. masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.

c. sebagai manusia memiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu, menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individual dan sebagainya.

Peserta didik sebagai manusia yang belum dewasa merasa tergantung kepada pendidiknya. Seseorang yang belum dewasa, pada dasarnya mengandung banyak sekali kemungkinan untuk berkembang.

Sebenarnya ketergantungan anak didik terhadap pendidik hanya bersifat sementara, sebab pada suatu saat anak didik diharapkan mampu berdiri sendiri, dan dalam hal ini sedikit demi sedikit peran pendidik dalam memberikan bantuan semakin berkurang sejalan dengan perkembangan anak menuju dewasa.

Dalam pendidikan tradisional, peserta didik dipandang pasif, hanya menerima informasi dari orang dewasa. Kini dengan makin cepatnya perubahan sosial dan berkat penemuan teknologi, maka komunikasi antarmanusia berkembang amat cepat. Peserta didik dalam usia dan tingkat kelas yang sama biasa memiliki profil materi pengetahuan yang berbeda-beda. Hal ini tergantung kepada konteks yang mendorong perkembangan seseorang.

Ada empat konteks yang dapat disebutkan, yaitu :

a. lingkungan dimana peserta belajar secara kebetulan dan kadang-kadang, di sini mereka belajar tidak berprogram.

b. lingkungan belajar dimana peserta didik belajar dengan sengaja dan dikehendaki.

c. sekolah dimana peserta didik belajar mengikuti program yang ditetapkan.

d. lingkungan pendidikan optimal, di sekolah yang ideal dimana peserta dapat melakukan cara belajar siswa aktif.



Kegiatan pendidikan merupakan pemberian bantuan kepada anak didik dalam rangka mencapai kedewasaan. Adapun implikasi (Hidayanto, 1988: 51) dalam hal ini adalah sebagai berikut.

a. orang yang dibantu bukanlah seseorang yang sama sekali tidak dapat berbuat, melainkan mekhluk yang bisa bereaksi terhadap rangsang yang ditujukan kepadanya.

b. pencapaian kemandirian harus dimulai dengan menerima realita tentang ketergantungan anak.

2. Tujuan

Pendidikan (Hasbullah, 2012: 10) menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke arah cita-cita tertentu. Maka yang menjadi maslah pokok bagi pendidikan yaitu arah atau tujuan.

Tentang tujuan ini, di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional.

"Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."

Adapun fungsi tujuan adalah sebagai berikut.

1. sebagai arah pendidikan yaitu tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.

2. tujuan sebagai titik akhir yaitu suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.

3. tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain yaitu apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.

4. memberi nilai pada usaha yang dilakukan.

3. Materi

Faktor merupakan suatu faktor berupa materi yang akan di ajarkan oleh pendidik dan diterima oleh peserta didik. Materi pendidikan diharapakan merupakan suatu materi yang segar dan terbaru selain itu juga harus mudah dipahami. Jadi terdapat timbal balik antara pendidik dan peserta dalam melakukan pelajaran.

Dalam usaha pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat, ada syarat utama dalam pemilihan materi pendidikan yaitu:

a. materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan

b. materi harus sesuai dengan kemampuan peserta didik.

4. Alat

Dalam suatu proses belajar mengajar (Arsyad, 2015: 19), dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Alat pendidikan (Marimba, 1987: 50) adalah suatu tindakan atau situasi yang sengaja diadakan untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan yang tertentu. Alat pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan.

Ditinjau dari wujudnya (Meichati, 1976: 85) alat pendidikan dapat berupa:

a. perbuatan mendidik (biasa disebut piranti lunak); mencakup nasihat, teladan, larangan, perintah, pujian, teguran, ancaman, dan hukuman.

b. benda-benda sebagai alat bantu (biasa disebut piranti keras); mencakup meja kursi, belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis,, dan sebagainya.



Hubungan Timbal Balik antar faktor Pendidikan

1. Pengaruh Sekolah Terhadap Masyarakat

Dalam hal pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada luas tidaknya serta kualitas output pendidikan (sekolah) itu sendiri. Semakin besar output sekolah tersebut dengan disertai kualitas yang mantap, dalam artian mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, maka tentu saja pengaruhnya sangat positif bagi masyarakat. Sebaliknya meskipun lembaga pendidikan mampu mengeluarkan outputnya tapi dengan sumber daya manusia yang rendah secara kualitas, itu juga jadi masalah, tidak saja bagi out put yang bersangkutan, tetapi berpengaruh juga bagi masyarakat.

Dengan demikian, bila lembaga pendidikan dimaksud mempu melahirkan produk-produknya yang berkualitas, tentu saja hal ini merupakan investasi bagi penyediaan sumber daya masyarakat. Investasi ini sangat penting untuk pengembangkan dan kemajuan masyarakat, sebab manusia itu sendiri adalah subjek setiapa perkembangan, perubahan dan kemajuan di dalam masyarakat.

a. mencerdaskan kehidupan masyarakat, dengan pendidikan, kecerdasan anggota masyarakat dapat tergapai untuk mengkader generasi yang siap menapaki masa depan dengan berbekal ilmu pengetahuan.

b. membawa pembaruan dan perkembangan masyarakat .

c. menghasilkan masyarakat yang siap pakai dan terbekali dalam lapangan pendidikan.

d. menghasilkan masyarakat yang bersikap konstruktif sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis.

e. mentransformasikan budaya sekolah untuk pengembangan budaya masyarakat.

2. Pengaruh Masyarakat Terhadap Sekolah

Sebagaimana yang dikemukakan terdahulu tentang keterkaitan masyarakat dengan pendidikan adalah sangat erat dan saling mempengaruhi.

Dengan perkataan lain, suatu masyarakat yang maju karena adanya pendidikan yang maju, pendidikan yang modern ditemuken dalam masyarakat yang modern pula. Sebaliknya masyarakat yang kurang memperhatikan pembinaan pendidikan, akan tetap terbelakang, tidak hanya dari segi intelektual, tapi juga dari segi sosial kultural.

a. identitas dan dinamikan masyarakat membawa perubahan terhadap orientasi dan tujuan pendidikan.

b. realitas sosial buadaya masyarakat membawa perubahan dalam proses pendidikan.

c. perubahan sosial akan membawa perubahan dalam materi pendidikan.

Ada tiga macam kehidupan kelurga yang sangat berpengaruh dalam proses belajar pendidikan di sekolah.

a. keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi perkemkangan anak, orang tua dari lingkungan keluarga yang demikian akan selalu mendorong demi kemajuan anak.

b. keluarga yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak. keluarga yang semacam ini tidak mengabaikan peran untuk mendorong atau melarang terhadap kegiatan yang dijalani anak.

c. keluarga yang anti pati terhadap dampak dari keberadaan pendidikan di sekolah atau di masyarakat sekitarnya. orang tua dari keluaga yang semacam ini akan menghalangi dan menyikapi dengan kebencian terhadap kegiatan yang dilakukan oleh anaknya.




Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor dalam pendidikan meliputi: peserta didik, tujuan, materi, dan juga alat untuk melaksanakan prosesi pendidikan secara formalitas.

Untuk mencapai suatu hubungan secara berkesinambungan antara masyarakat dengan sekolah harus ada unsur-unsur yang sistematis, karena suatu pendidikan membutuhkan toleransi dari berbagai pihak.

Yang mempengaruhi faktor pendidikan adalah konteks pendidikan. Suatu pendidikan pasti ada unsur peserta didiknya, dan sebuah pendidikan juga memerlukan alat, serta materi untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.



Hasbullah, Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005.

Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT Al- Ma’arif, 1987.

Hidayanto, Dwi Nugroho, Mengenal Manusia dan Pendidikan. Yogyakarta: Liberty, 1988.

Meichati, Siti, Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: FIP-KIP, 1976.

Barnadib, Sutari Imam, Pengantar di Indonesia dari Zaman Ke Zaman. Jakarta: Balai Pustaka, 1979.

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2015.







Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon