Strategi Pembelajaran Kontekstual

Saturday, November 18, 2017 0

Pendekatan kontekstual atau yang sering disebut dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam proses pembelajaran. 
Dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan keadaan dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.[1]
Pendekatan kontekstual lebih dimaksudkan suatu kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang lebih mengedepankan idealitas pendidikan sehingga benar-benar menghasilkan kualitas pembelajaran yang efektif dan efisien.[2]
Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.[3]
Pendekatan kontekstual mengasumsikan bahwa secara alami pikiran mencari makna konteks sesuai dengan kenyataan, dan hal itu bias terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal. Pemanduan materi pelajaran dengan konteks keseharian peserta didik di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan pengetahuan yang mendalam bagi peserta didik itu sendiri. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Pembelajaran ini menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari peserta didik dengan konteks di mana materi itu digunakan.[4]
Dalam pembelajaran kontekstual, pendidik harus menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar peserta didik, agar tidak terjadi pemaksaan kehendak. Pendidik perlu memandang peserta didik sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Kalaupun pendidik memberikan informasi kepada peserta didik, pendidik harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka. Tugas pendidik dalam pendekatan kontekstual yakni membuat peserta didik lebih mudah mempelajari suatu materi pelajaran, dengan menyediakan berbagai media dan sumber belajar yang memadai. Pendidik tidak hanya menyampaikan materi lewat ceramah saja, namun pendidik juga mengatur lingkungan dan strategi pembelajarannya. Lingkungan belajar yang kondusif sangat berperan dalam pelaksanaan pendekatan kontekstual, dan tercapainya tujuan pembelajaran.[5]

 Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual


Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi dari proses menemukan dan mengkonstruksi sendiri, maka guu harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi semata, akan tetapi ada proses membangun pengetahuan melalui share dan diskusi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme yang aktif serta memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna utuk kehidupan mereka.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas (komponen). Asas-asas inilah yang melandasi pelaksanaan pembelajarann kontekstual (CTL), yaitu:[6]


1. Constructivism

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman.

2. Inkuiri

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.

3. Questioning

Hakikat dari belajar adalah bertanya dan menjawab. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seorang dalam berpikir.

4. Learning Community

Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah.

5. Modeling

Proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberi contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi guru juga bisa memanfaatkan peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan.

6. Reflection

Berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima

7. Authentic Assessment

Proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.


Elemen Belajar Konstruktif


Terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual.

1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).

2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.

3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami.

4. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).

5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.[7]

 Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual


Secara garis besar, langkah-langka yang arus ditempuh dalam pembelajaran kontekstual.[8]

1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya.

4. Menciptakan masyarakat belajar.

5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.

7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.





[1] Mulyono, Strategi Pembelajaran; Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abad Global, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), 41.
[2] Saekhan Muchith, Pembelajaran Kontekstual, (Smarang: RaSAIL Mdia Group, 2008), 2.
[3] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual; Konsep dan Aplikasinya, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),  7.
[4] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), 107.
[5] E. Mulyasa, Kurikulum yang Disempurnakan; Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 218.
[6] Hamruni, Konsep Dasar dan Implementasi Pembelajaran Kontekstual. (Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. XII, No. 2, Desember 2015), 181-184.
[7] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), 256.
[8] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), 229-230.

Pendekatan Supervisi Artistik

Saturday, November 18, 2017 0




Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), juga suatu kiat (art). Selaras dengan tugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan, dan juga suatu kiat.

Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working fot the others), bekerja dengan orang lain (working the others). Dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan manusia dapat tercipta bila ada kerelaan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling percaya saling mengerti, saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seseorang sebagaimana adanya. Hubungan tampak melalui pengungkapan bahasa, yaitu supervisi lebih banyak. Dalam hal ini maka memerlukan pendekatan supervisi artistik.[1]


Pendekatan Supervisi Artistik

Pendekatan artistik berkembang sebagai akibat ketidakpuasan terhadap pendekatan ilmiah. Mengkritik kelemahan pendekatan ilmiah secara internal, yang disinyalir gagal karena menggeneralisasikan pengajaran yang tampak sebagai keseluruhan peristiwa pengajaran. Pendekatan artistik berupaya menerobos keterbatasan pendekatan ilmiah, menjangkau latar psikologi dan sosiologi pelakunya. Manusia secara psikologi berbeda, mengharuskan penyelamannya pun juga berbeda-beda.

Pendekatan Supervisi Artistik: Kelebihan dan Kekurangan


Pendekatan artistik melihat berhasil tidaknya pengajaran, usaha meningkatkan mutu guru banyak menekankan pada kepekaan, persepsi, dan pengetahuan supervisor sebagai saran untuk meangpresiasi kejadian pengajaran yang bersifat subleties (halus, lembut) dan sangat bermakna di dalam kelas. Supervisor diharapkan dapat mengapresiasi kejadian pengajaran yang bersifat ‘subtleties’ (lembut). Pengajaran di dalam kelas dengan demikian terlihat secara ekspresif, puitis, dan bahkanmenggunakan bahasa simbol dan kiasan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan pengajaran di dalam kelas diamati secara teliti.
Pendekatan artistik menempatkan supervisor sebagai instrumen observasi dalam mencari data untuk keperluan supervisi. Oleh karena supervisor sendiri yang berperan sebagai instrumennya, maka dialah yang membuat pemaknaan terhadap pengajaran yang berlangsung.[2]

Argumen Penyangga Pendekatan Artistik

Pendekatan artistik merupakan wujud ketidakpuasan pendekatan ilmiah, maka argumen penyangga ialah kelemahan pendekatan ilmiah.[3]
Kelemahan
Deskripsi
Sering terjadi kesalahan kesimpulan
Kejadian-kejadian tertentu disimpulkan sebagai kesuksesan pengajaran. Pembinaan terhadap guru lebih diarahkan pada perilaku guru yang secara umum dapat meningkatkan mutu pengajaran misalnya memberi penguatan terhadap siswa, memberi contoh yang konkret.
Kesalahan Komposisi
Kualitas pengajaran lebih dilihat dari penjumlahan skor vaiabel-variabel, indikator-indikator yang ada, dicari rata-rata hitungnya. Kalau beberapa skor indikator sangat tinggi, sementara skor indikator yang lain sangat rendah, dihitung rata-ratanya hitungnya maka hasilnya bias.
Kesalahan Pengongkretan
Pendekatan ilmiah mengacu pada tampilam-tampilan yang tampak, Supervisor membantu guru didasarkan pada perilaku yang tampak pada diri guru. Padahal sistem pengajaran merupakan perpaduan komponen fisik dan psikis.
Kesalahan Urus
Seringkali urusan pengajaran hanya dibatasi pada peristiwa yang ada di dalam kelas saja, sementara peristiwa di luar kelas tidak mendapat perhatian.

Ciri-ciri Pendekatan Supervisi Artistik

a.         Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
b.         Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup
c.         Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda
d.        Menuntut unruk member perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas
e.         Memerlukan suatu kemampuan berbahasa dalam cara mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu
f.          Memerlukan kemampuan untuk menafsir makna dari peristiwa yang diungkapkan[4]

Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Supervisi Artistik

Meskipun pendekatan ini dibilang cukup menarik, namun juga memilikimkelebihan dan kekurangan.[5]

Kelebihan
Kekurangan
Dalam melihat fenomena pengajaran dicermati secara teliti, halus, dikaitkan dengan gejala lain. Peristiwa yang sama mungkin memiliki penyebab yang berbeda, sehingga pembinaan yang dilakukan bisa berbeda, sesuai dengan persepsi supervisor.
Tidak semua supervisor mampu mengapresiasikan fenomena secara tepat. Mungkin dari segi waktu juga agak lama.

Rujukan

Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2011.
Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.




[1] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2011), 109.
[2] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2.
[3] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 3.
[4] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2011), 109.
[5] Lihat (http://fip.um.ac.id/) Slide Power Point Pendekatan Supervisi Pengajaran: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 3.

Multimedia Learning Dalam Pembelajaran

Friday, September 22, 2017 1
Multimedia Learning Dalam Pembelajaran - Secara umum multimeida berhubungan dengan penggunaan lebih dari satu macam media untuk menyajikan informasi. Misalnya video musik adalah bentuk multimedia karena menggunakan audio dan video. Berbeda dengan rekaman musik yang hanya menggunakan audio sehingga disebut monomedia.




Mutlimedia berasal dari kata multi dan media. Multi berasal dari bahasa Latin, yaitu nouns yang berarti banyak atau bermacam-macam. Sedangkan kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medium yang berarti perantara atau sesuatu yang dipakai untuk menghantarkan, menyampaikan, atau membawa sesuatu.[1]

Karakteristik Multimedia Learning

Penggunaan multimedia dalam pendidikan mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain, diantara keistimewaan itu adalah:[2]

a. Multimedia dalam pendidikan berbasis komputer;
b. Multimedia mengintegrasikan berbagai media (teks, gambar, suara, video dan animasi) dalam satu program secara digital;
c. Multimedia menyediakan proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;
d. Multimedia memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan materi pelajaran;
e. Multimedia memberikan kemudahan mengontrol yang sistematis dalam pembelajaran.

Prinsip-prinsip Multimedia Learning

Menggunakan multimedia pembelajaran dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:[3]

1. Sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran yang tercantum dalam garis-garis program pembelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum yang berlaku di sekolah.
2. Memberikan pengertian dan penjelasan tentang suatu konsep.
3. Mendorong kreativitas peserta didik dan memberikan kesempatan peserta didik untuk bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri).
4. Memenuhi unsur kebenaran dalam ukuran, ketelitian,dan kejelasan untuk menghindari kesalahan pengertian tentang sesuatu yang digambarkan atau dijelaskan melalui multimedia pembelajaran tersebut.
5. Multimedia pembelajaran harus aman dan tidak membahayakan peserta didik atau pendidik.
6. Multimedia pembelajaran menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi peserta didik untuk menggunakannya.
7. Memenuhi unsur keindahan dalam bentuk, warna, dan kombinasinya, serta rapi pembuatannya.
8. Mudah digunakan, baik oleh pendidik maupun peserta didik.
9. Penggunaan multimedia pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran tidak sekaligus dipertunjukkan kepada peserta didik melainkan bergantian sesuai materi yang dijelaskan.
10. Multimedia pembelajaran yang digunakan merupakan bagian dari materi pembelajaran yang sedang dijelaskan bukan sebagai selingan atau alat hiburan.
11. Peserta didik mempunyai tanggung jawab dalam menggunakan multimedia pembelajaran.
12. Multimedia pembelajran lebih banyak berisikan materi yang mengandung pesan positif dibandingkan pesan negatif.

Metode pengajaran dan pembelajaran berbantuan komputer telah mulai diperkenalkan dan kini dengan era teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat. Aplikasi multimedia adalah aplikasi yang dirancang serta dibangun dengan menggabungkan elemen-elemen seperti teks atau dokumen, suara, gambar, animasi dan video.

Multimedia akan membantu peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif dalam belajhar, serta menjadikan pendidik sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan kepada peserta didik.

Berikut ini merupakan beberapa aplikasi multimedia yang biasa diguanakn dalam bidang pendidikan:[4]

1. Kamus Multimedia Elektronik
Kamus multimedia elektronik merupakan salah satu contoh bagaimana multimedia bisa digunakan untuk tujuan pendidikan. Berbeda dengan kamus biasa, kamus multimedia elektronik akan memaparkan makna sesuatu istilah yang dikehendaki dengan menggunakan berbagai media dukungan.

2. Eksperimen
Penggunaan media seperti video dan animasi dalam melakukan proses ujicoba atau eksperimen memungkinkan peserta didik memahami dan seterusnya menguasai konsep yang diperlukan dengan lebih mudah.

3. Simulasi Proses Kerja
Simulasi merujuk kepada suatu keadaan sebuah lingkungan. Terdapat berbagai jenis aplikasi yang memanfaatkan teknik simulasi yang bisa digunakan dalam tujuan pendidikan. Simulasi penerbangan yang sering digunakan dalam latihan sistem penerbangan merupakan contoh penggunaan simulasi proses kerja.

4. Bahan Sejarah
Belajar sejarah juga menjadi lebih mudah dengan bantuan multimedia. Bahan-bahan sejarah bisa direkayasa untuk menghasilkan tampilan menjadi lebih hidup dengan menggabungkan konsep gambar, animasi, dsb.

5. Sumber Rujukan Elektronik
Sumber rujukan elektronik merupakan contoh penggunaan multimedia yang paling meluas digunakan. Ensiklopedia, tutorial interaktif, buku elektronik dan sebagainya merupakan beberapa contoh bagaimana multimedia bisa digunakan sebagai sumber rujukan elektronik.

6. Pendidikan Permainan dan Hiburan
Permainan yang disajikan tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktivitas belajar sambil bermain. Permainan berbentuk seperti ini mampu merangsang pemikiran peserta didik dalam proses pencarian informasi atau menyelesaikan masalah. Ini menjadikan proses belajar sesuatu yang menyenangkan dan bukan lagi dianggap sesuatu yang memberatkan.


[1] Munir, Multimedia: Konsep dan Aplikasi dalam Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2013), 2.
[2] Munir, Multimedia..., 24-25.
[3] Munir, Multimedia..., 157-158.
[4] Munir, Multimedia..., 38-43.

Jenis Data dan Sumber Data Penelitian Kualitatif

Friday, September 22, 2017 0
Tahap penting dalam proses penelitian adalah  pengumpulan data. Peneliti harus benar-benar memahami berbagai hal yang berkaitan dengan data, baik jenis, sumber, teknik, dan istrumen pengumpulannya.

Dalam penelitina kuantitatif, data merupakan alat bukti dalam pengujian hipotesis. Penelitian kuantitatif mengharuskan penyusunan teori dengan kerangka berpikir yang tegas dan pasti dalam bentuk hipotesis sebelum kegiatan pengumpulan data.



Hal tersebut berbeda dengan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif meletakkan data penelitian bukan sebagai alat dasar pembuktian, tetapi sebagai modal dasar bagi pemahaman. Beragam data dikaji tidak ditentukan oleh teori dan kerangka teori pasti, tapi berdiri sebagai realita yang merupakan elemen dasar dalam membentuk teori. Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif, sama-sama mengakui pentingnya data dengan funsgi yang berbeda.

Pengertian Data

Data adalah bentuk jamak dari datum, merupakan keterangan-keterangan tentang suatu hal, dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap atau anggapan, atau suatu fakta yang digambarkan melalui angka, simbol, kode dan lain-lain. Data dapat berupa keterangan seseorang yang dijadikan responden maupun yang berasal dari dokumen-dokumen, baik dalam bentuk statistik atau bentuk lainnya guna keperluan penelitian. Data merupakan fakta atau informasi atau keterangan yang dijadikan sebagai sumber atau bahan menemukan kesimpulan dan membuat keputusan.[1]

Jenis Data

Adapun data yang digunakan dalam penelitian ada dua, yaitu:

1. Data kualitatif
Data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka.[2] Jika melakukan penelitian di sekolah, yang menjadi data kualitatif dalam penelitian yaitu sejarah singkat berdirinya, letak geografis, visi dan misi, struktur organisas, efektivitas pembelajaran, dsb.

2. Data kuantitatif
Jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka.[3] Jika melakukan penelitian di sekolah, dalam hal ini data kuantitatif yang diperlukan adalah jumpah guru, siswa, dan karyawan, jumlah sarana dan prasarana, dan hasil angket.

Sumber Data

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh.[4] Berdasarkan sumbernya, ada sumber data primer dan sekunder:

1. Sumber data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya.[5] Misalnya jika penelitian dilakukan di sekolah, yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa.

2. Sumber data sekunder yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Dapat juga dikatakan data yang tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.[6] Misalnya jika penelitian dilakukan di sekolah, dokumentasi dan angket merupakan sumber data sekunder.



[1] Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 146.
[2] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Yogyakarta: Rakesarin, 1996), 2.
[3] Sugiyono, Statistik untuk Penelitian. (bandung: Alfabeta, 2010), 15.
[4] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 129
[5] Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian. (Jakarta: Rajawali, 1987), 93.
[6] Ibid., 94.

Jadwal dan Agenda Cak Nun Agustus 2017

Thursday, August 24, 2017 0


Jadwal dan Agenda Cak Nun Agustus 2017
Cak Nun

 
Jadwal dan Agenda Cak Nun Terbaru Bulan Agustus 2017 - Ini adalah jadwal dan agenda rutinan Cak Emha Ainun Najib. Bagi anda yang rutinan ikut pengajian Cak Nun.

Sinau Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng
HUT RI ke 72

21 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Komp. Asrama Korem 072 Pamungkas
Jl. Atmosukarto, Kotabaru, Yogyakarta

Sinau Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng
Tasyakuran PT. Rejeki Agung Mandiri

22 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Banjarjo, Panggang, Kemalang, Klaten, Jateng

Milad NM ke 6
Srawung Kawruh Nggayuh Kaluhungan

24 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Balai Desa
Wonolelo, Plered, Bantul, Yogyakarta 

Majelis Masyarakat Maiyah: Gambang Syafaat
25 Agustus 2017 • 20:00 WIB
Komp. Masjid Baiturrahman
Jl. Pandanaran No. 126 Simpanglima, Semarang, Jateng 

Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng bersama Alumni Fakultas Ekonomi 81 UPN Veteran Surabaya
27 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Gd. Fak. Ekonomi UPN Veteran Surabaya
Jl. Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar, Surabaya, Jatim 
 
Sinau Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng
Festival Edukasi Seni Budaya dan Olah Raga 2017

28 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Kampus STKIP PGRI Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Tim. No. 24, Plosokandang, Kedungwaru, Tulungagung, Jatim 
 
Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng
Sedekah Bumi Desa Padang
29 Agustus 2017 • 19:30 WIB
Lapangan Bendung Gerak
Desa Padang, Kec. Trucuk, Bojonegoro, Jatim

Catatan:
Jadwal di update setiap saat dan dapat berubah sewaktu-waktu.


Sumber jadwal ini dari situs CakNun.com 

Ebook: La Tahzan Karya Dr. 'Aidh Al-Qarni

Friday, August 18, 2017 0
Ebook: La Tahzan Karya Dr. 'Aidh Al-Qarni - La Tahzan merupakan salah satu buku petunjuk cara hidup, dan buku motivasi. Buku ini ditulis untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan
beban duka dan kegundahan yang semakin berat menerpa.



Buku ini akan mengatakan kepada pembacanya, "Bergembiralah dan berbahagialah!" atau Optimislah dan tenanglah!Bahkan, mungkin pula ia akan berkata, “Jalani hidup ini apa adanya  dengan ketulusan dan keriangan!”. Buku ini berusaha meluruskan berbagai kesalahan yang  terjadi akibat penyimpangan terhadap fitrah saat berinteraksi dengan sunah-sunah Allah,  sesama manusia, benda, waktu dan tempat.


Sampai jumpa pada postingan selanjutnya ya..

Ebook: Kunci Kebahagiaan Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Friday, August 18, 2017 0
Ebook: Kunci Kebahagiaan Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah - Buku inimerupakan terjemahan dari kitab aslinya yang berjudul Miftahu Daar as-Sa’adah merupakan salah satu karya seorang pengarang besar yaitu Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.


Karya yang sarat dengan faedah, ilmu, dan nasehat-nasehat yang banyak diambil oleh para ulama sesudahnya, dipelajari para ahli fikih, dan disinggung oleh para khatib dalam khutbahnya.

Karya ini merupakan tulisan yang cukup besar di antara tulisannya yang lainnya. Dia berbicara secara detail tentang rahasia Allah dalam menurunkan Adam ke bumi, setelah dikeluarkan dari surga-Nya, serta menjelaskan tentang surga yang dihuni oleh Adam. Dia seorang mufassir besar ketika bicara masalah tafsir.


Dalam karya ini beliau memperlihatkan kecerdasannya ketika memberikan penafsiran tentang ayat-ayat Allah dalam surat Thaha yang berkaitan dengan masalah Adam dan keturunannya, membedah tempat kebahagiaan hakiki (surga) dalam kitab yang ia namakan dengan itu, berbicara tentang kebahagiaan yang datang karena ilmu, dan kehendak serta berbagai macam keutamaan dan kemuliaan ilmu tersebut, bahwasanya ia lebih utama dibanding dengan harta dan argumentasi yang sangat memukau. 

Ibnu Qayyim masuk juga membahas bahasan penting lainnya, tentang penciptaan manusia, penciptaan alam, bintang gemintang, dan penciptaan bumi, serta membongkar rahasia diciptakannya neraka.


Kemudian beliau membahas berbagai hikmah diciptakannya bermacam-macam makanan pokok, buah-buahan, dan dedaunan. Juga keajaiban-keajaiban yang terjadi pada berbagai makhluk ciptaan Allah, baik itu manusia, hewan, maupun keajaiban alam lainnya. Dia mengkhususkan bahasan tentang kondisi hamba ketika menghadap Allah, dia bahas secara detail, sebuah bahasan yang tidak kami temukan dalam tulisan lainnya.

Semoga Allah memberikan keikhlasan bagi penulis, dan tulisannya dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sesungguhnya tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali karena Allah.


Sampai jumpa pada postingan selanjutnya...

Beasiswa Peduli Anak Bangsa 2017

Friday, July 07, 2017 0
Beasiswa Peduli Anak Bangsa 2017


Beasiswa Peduli Anak Bangsa 2017 - Bagi teman-teman yang sedang menempuh jenjang sarjana dan ingin mengajukan beasiswa. Saat ini BCA Finance menyediakan beasiswa peduli anak bangsa. Bagi teman-teman yang berminat, silahkan baca persyaratannya dibawah ini.


Beasiswa Peduli Anak Bangsa 2017

Pendaftaran beasiswa periode 2017  : 20 Mei – 31 Juli 2017
Pengumuman Tahap I               : 7 Agustus 2017
Seleksi Tahap I                      : 8 Agustus – 31 Agustus 2017
Pengumuman Akhir                  : 20 September 2017
*Note : mohon diisi secara perlahan dan teliti. Kami TIDAK MENERIMA PERUBAHAN DATA apabila terjadi kesalahan (penulisan, pengisian, dll).

Keterangan :
Tahap I     : Penentuan Awal
200 Calon pemenang yang terpilih pada tahap awal wajib mengirimkan dokumen yang dipersyaratkan kemudian
Tahap II    : Penentuan Akhir
Penentuan 100 pemenang beasiswa yang berhak menerima Rp 3.000.000 / semester

·         Proses seleksi dilakukan oleh Tim Seleksi BCA Finance
·         Keputusan hasil penerimaan adalah bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat serta kami tidak menerima surat menyurat dalam bentuk apapun selama proses dan setelah keputusan pemenang
·          Keterangan lebih lanjut dapat diakses melalui website www.bcafinance.co.id


Kualifikasi Penerima :
§  Mahasiswa Strata 1 (S1) atau D4 segala jurusan
§  Minimal telah/sedang menyelesaikan semester 2
§  IPK Minimal : 3,00 (PTN) dan 3,40 (PTS)
§  Tidak sedang menerima beasiswa dari pemberi beasiswa manapun



Demikian informasi beasiswa kali ini, silahkan manfaatkan dengan baik-baik mumpung ada kesempatan. Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya ya teman-teman. Terimakasih atas perhatiannya.