Filsafat Pendidikan Progresivisme

Filsafat Pendidikan Progresivisme - Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum sebagai hasil dari buah pemikiran para ahli filsuf yang melahirkan bergagai macam pandangan.Filsafat pendidikan ini diaplikasikan dalam pendidikan untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan secara menyeluruh.


Filsafat Pendidikan Progresivisme

Dalam filsafat pendidikan ini terdapat berbagai mazhab-mazhab seperti
perenialisme, idealisme, realisme, esensialisme, eksistensialisme, pragmatisme, dan lain-lain. Dalam hal ini penulis akan mencoba untuk mengulas mengenai aliran filsafat pendidikan progresivisme.
Dengan adanya ulasan ini diharapkan kita
semua dapat mengetahui lebih jauh lagi mengenai aliran filsafat pendidikan progresivisme.[1] 

Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme

Pendidikan dalam aliran Progressivisme ini muncul adalah sebagai oposisi atas pendidikan model  tradisional di Amerika Serikat, sekitar tahun 1800-an. Kebangkitan ini dipicu oleh adanya anggapan dari masyarakat terutama para pendidik bahwa sekolah gagal untuk menjaga langkah dari zaman dengan perubahan    hidup    yang    terjadi  dalam masyarakat Amerika itu sendiri.
Perkembangan zaman yang ditopang oleh kemajuan ilmu dan teknologi dalam tatanan masyarakat membutuhkan kemajuan dalam pendidikan itu pula.
Untuk menjawab persoalan inilah yang menjadi dasar pemikiran dari pendidikan model filsafat progressivisme ini. Adapun para tokoh pada tahun 1800-an yang memunculkan aliran filsafat pendidikan ini adalah Horace Mann, Francis Parker dan G Stanley Hal. Dan pada thun 1900-an adalah John Dewey dan William H Kilpatrick.
Para pendidik Progressivisme ini mecoba untuk mereformasi metode pendidikan di sekolah dasar.Sebagaimana sekolah tradisional biasanya menekankan pelajaran terhadap subjek tertentu, membaca, menulis, aritmetika, geografi, sejarah dan tata bahasa. Guru mengajar atau mendiktekan pelajaran tersebut kemudian pelajar menuliskannya pada  buku catatan masing-masing. Murid kemudian mempelajari inti pokok dari apa yang ada dalam buku catatan dan  kemudian diperhadapkan kepada teks buku mereka. Guru menjalankan tugasnya sepanjang pelajaran berlangsung kecuali pada saat para murid diperintahkan untuk menghafalkan bahan pelajaran. Dan para murid duduk pada jajaran meja tulis dan mereka tidak boleh berbicara kecuali dengan ijin dari guru.

Pendidikan tradisional saat itu sangatmenekankan:

-     Otoritas penuh dari guru pengajar
-     Menekankan metode instruksi pada bukuteks
-     Pengajaran yang pasif melalui ingatan atas data yangdipelajari
-     Pendidikan terisolasi  dari realitas social,dan
-     Hukuman badan sebagai sebuah bentuk untuk menegakkan displin.
Sistem pendidikan yang ditekankan adalah displin yang kuat dan tegas serta pemberian hukuman diupayakan untuk membangun tata tertib proses belajar mengajar.[2]

 Inti Pemikiran Filsafat Pendidikan Progresivisme

Progressivisme muncul untuk mereformasi metode-metode pendidikan tradisional. Pendidikan Progressivisme adalah sebuah   teori   dengan   sistem  pendidikan yang mementingkan kemerdekaan dan kebebasan anak dari tekanan pengajaran dengan sistem hafalan, pendiktean bahan pelajaran dan otorisasi terhadap buku teks. Para pendidik Progressivisme meyakini bahwa para murid belajar lebih baik apabila mereka dengan sungguh-sungguh sangat perhatian atas apa yang dipelajari, yaitu materi pelajaran yang disukai dan sebaliknya akan terjadi bahwa  mereka tidak akan belajar dengan baik apabila mereka ditekan untuk menghafal dan mengingat berbagai macam fakta-fakta yang dianggap percuma. Anak-anak seharusnya belajar melalui  kontak langsung dengan sesuatu objek pelajaran, tempat dan orang-orang sebagaimana dibaca atau didengarkan oleh mereka.
Progressivisme  ini sekolah seharusnya tidak hanya memiliki satu ruang kelas, melainkan juga harus memiliki ruang kerja, laboratorium ilmu, studio, ruang seni, ruang masak, gedung olah-raga dan perkebunan. Dengan fasilitas ini, para pengajar Progressivisme yakin bahwa dengan prosedural pengadaan fasilitas ini akan secara otomatis membangun fisik, sosial, emosi alamiah mereka sebagaimana adanya. Para anak didik juga memiliki wadah untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiranmereka.

Progressivisme juga menekankan aktivitas, informalitas dalam kelas. Mereka meyakini bahwa anak-anak akan belajar lebih baik ketika mereka dapat
bergerak dan bekerja dengan cara mereka sendiri. Dalam pelaksanaan proses belajar, anak-anak dituntut mengumpulkan materi- materi dari beberapa sumber, bukan hanya dari satu buku teks yang telah ditentukan saja. Dan penyelesaian problem dilaksanakan secara berkelompok dengan murid-murid yang lain. Bahwa dengan diskusi, drama, musik dan aktivitas seni menjadi prosedur kelas disamping pelajaran dan kegiatan menghafal.
Adapun yang menjadi prinsip- prinsip pendidikan yang dianut oleh aliran ini dapat didaftarkan secara singkat adalah:

-     Anak-anak dibiarkan bebas berkembang secara alami
-     Perhatian, didorong  langsung pada pengalaman, karena ini dianggap sebagai pendorong yang paling baik dalampengajaran.
-     Guru harus menjadi seorang narasumber dan seorang pembimbing dan pengarah dalam aktivitas pembelajaran.
-     Sekolah seharusnya menjadi sebuah laboratorium bagi reformasi pendidikan dan tempat untuk bereksperimen
Progressivisme ini  sangat menekankan bahwa anak harus diajar menjadi seorang yang berdiri sendiri (independen), menjadi seorang pemikir yang percaya diri. Dalam hal ini, anak diarahkan untuk belajar dan mempelajari persoalan-persoalan yang ia anggap paling menarik, yaitu dengan memilih sendiri pokok persoalan yang hendak dipelajari, kemudian menetapkan definisi  bagi dirinya sendiri atas persoalan yang sedang diteliti atau yang sedang dikerjakannya. Selanjutnya ia akan mengekspresikan apa yang ia rasakan dan yang ia yakini. Peran sang guru disini adalah membantu murid untuk belajar dan mendisplinkan anak agar tetap konsekwen atas apa yang telah  ia pilih sebagai persoalan yang paling ia minati.[3]

Implikasi Filsafat Pendidikan Progresivisme

1.      Metode
Progresivisme sebagai teori yang mucul dalam reaksi terhadap pendidikan tradisional yang menekankan metode formal pengajaran, belajar mental dan, suasana klasik peradaban barat. Pada dasarnya teori progresivisme menekankan beberapa prinsip, antara lain;
  • Proses pendidikan berawal dan berakhir pada anak.
  • Subjek didik adalah aktif, bukan pasif. 
  •  Peran guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing atau pengarah.
  • Sekolah harus koperatif dan demokratif.
  • Aktifitas  lebih  focus pada pemecahan masalah, bukan untuk pengajaran materi kajian

2.      Kurikulum
Progresivisme memandang kurikulum sebagai pengalaman mendidik, bersifat eksperimental, dan adanya rencana serta susunan yang teratur.
Progresivisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar naturalistik, hasil belajar dunia nyata, dan juga pengalaman teman sebaya.
Mnurut teori Dewey tentang sekolah adalah lebih menekankan pada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajaran itu sendiri. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang.
3.      Pendidik
Pendidik menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat, pembimbing, pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh yang dapat berbuat apa saja (otoriter) terhadap muridnya. Oleh karena itu peran utama pendidik adalah membantu peserta didik atau murid bagaimana mereka harus belajar dengan diri mereka sendiri, sehingga pesrta didik akan berkembang menjadi orang dewasa yang mandiri dalam suatu lingkungannya yangberubah.
Menurut John Dewey, guru harus mengetahui ke arah mana anak akan berkembang, karena anak hidup dalam lingkungan yang senantiasa terjadi proses interaksi dalam sebuah situasi yang silih berganti dan sustainable (berkelanjutan). Prinsip keberlanjutan dalam penerapannya berarti bahwa masa depan harus selalu diperhitungkan di setiap tahapan dalam proses pendidikan. Guru harus mampu menciptakan suasana kondusif di kelas dengan cara membangungun kesadaranbersama setiap individu di kelas  tersebut akan tujuan bersama sesuai dengan tanggungjawab masing-masing dalam konteks pembelajaran di kelas, serta konsisten pada tujuan tersebut.

Teori progresivisme ingin mengatakan bahwa tugas pendidik sebagai pembimbing aktivitas anak didik dan berusaha memberikan kemungkinan lingkungan terbaik untuk belajar. Sebagai pembimbing ia tidak boleh menonjolkan diri, ia harus bersikap demokratis dan memperhatikan hak-hak  alamiah peserta didik secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologis  dengan keyakinan bahwa memberi motivasi lebih penting dari pada hanya memberi informasi. Pendidik atau guru dan anak didik atau murid bekerja sama dalam mengembangkan program belajar dan dalam aktualisasi potensi anak didik dalam kepemimpinan dan kemampuan lain yangdikehendaki.

Dalam teori ini pendidik harus jeli, telaten, konsisten (istiqamah), luwes, dan  cermat dalam mengamati apa yang menjadi kebutuhan anak didik, menguji dan mengevaluasi kepampuan- kemampuannya dalam tataran praktis dan   realistis.   Hasil   evaluasi menjadiacuan untuk menentukan pola dan strategi pembelajaran ke depan. Guru harusmempunyai kreatifitas dalam mengelola peserta didik, kreatifitas itu akan berkembang dan bervariasi sebanyak variasi peserta didik yang iahadapi.

4.      Peserta Didik
Teori progresivisme menempatkan peserta didik pada posisi sentral dalam melakukan pembelajaran.karena murid mempunyai kecenderungan alamiah untuk belajar dan menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dalam kehidupannya. Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan kepada murid suatu minat yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan.
Peserta didik adalah makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding dengan makhluk-makhluk lain karena peserta didik mempunyai potensi kecerdasan yang merupakan salah satu kelebihannya.
Oleh karenanya setiap peserta didik mempunyai potensi kemampuan sebagai bekal untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahannya.
Pendidik
harus memelihara dan manjamin kebebasan berpikir dan berkreasi kepada para peserta didik, sehingga mereka memilki kemandirian dan aktualisasi diri, namun pendidik tetap berkewajiban mengawasi dan mengontrol mereka guna meluruskan kesalahan yang dihadapi murid khusunya dalam segi metodologi berpikir. Prasyarat yang harus dilakukan oleh peserta didik adalah sikap aktif, dan kreatif, bukan hanya menunggu seorang guru mengisi dan mentransfer ilmunya kepada mereka. Peserta didik tidak boleh ibarat “botol kosong” yang akan berisi ketika diisi oleh penggunanya. Jika demikian yang terjadi maka proses belajar mengajar hanyalah berwujud transfer of  knowledge dari seorang guru kepada murid, dan ini tidak akan mencerdasakan sehingga dapat dibilang tujuan pendidikan gagal.[4]

Kritikan Pandangan Progresivisme

Menurut Uyoh Sadullah terdapat beberapa ritik yang dilontarkan pada pandangan progresivisme, antara lain:
1.       Peserta didik tidak mempelajari warisan sosial, mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya diketahui oleh orang terdidik.
2.       Mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah.
3.       Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru. Peserta didik memilih aktivitas sendiri.
4.       Peserta didik menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, ia menjadi manusia yang tidak memiliki self-discipline, dan tidak mau berkorban demi kepentingan umum.[5]


Kesimpulan

Teori pendidikan yang dibangun dari filsafat progresivisme oleh Jhon Dewey sebagai tokoh utamanya, pada dasarnya mengutamakan lima hal. Pertama,  kurikulum hendaknya disusunberdasarkan pengalaman edukatif, eksperimental, tersusun secara teratur dan tidak dipaksakan mengikuti selera pembuat kurikulum. Kedua, guru harus mempunyai kelebihan dalam bidang ilmu pengetahuan dan menguasai bidang tersebut. Guru dalam mendidik tidak boleh otoriter kepada anak didik, tetapi guru seharusnya mengarahkan bagaimana cara belajar anak dengan baik menjalankan fungsinya sebagai penunjuk jalan. Ketiga anak didik memiliki kesempatan untuk berkembang, aktif dan kreatif, serta mempunyai kebebasan beraktualisasi dalam menentukan langkah mereka.Keempat, lingkungan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam menunjang keberhasilan dalam pendidikan. Kelima, dalam proses pendidikan hendaknya metode lebih dikedepankan dari pada mater

DAFTAR PUSTAKA
Sadullah, Uyoh.Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta, 2010.
Nanuru, Ricardo F. Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN 2086-0404     Agustus 2014.
Ma’ruf, Ahmad. Dosen Program Studi Pendidikan Agama Isam Fakultas Agama           Islam Universitas Yudharta Pasuruan, Jurnal Aliran Pendidikan Dalam         Perspektif Pendidikan Progresivisme Dan Esensialisme.


[1] Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan. (Bandung: CV. Alfabeta, 2010), 96.
[2] Ricardo F. Nanuru, Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia.Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN 2086-0404 Agustus 2014, 134 – 135.
[3] Ricardo F. Nanuru, Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia. Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN 2086-0404 Agustus 2014, 135 – 136.
[4] Ahmad Ma’ruf, Dosen Program Studi Pendidikan Agama Isam Fakultas Agama Islam Universitas Yudharta Pasuruan, Jurnal Aliran Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Progresivisme Dan Esensialisme, 88 – 92.
[5] Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan. (Bandung: CV. Alfabeta, 2010), 150.


Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon