Tafsir Tematik Tentang Shalat

Tafsir Tematik Tentang Shalat - Shalat merupakan kewajiban hamba Allah swt. yang beriman. Bentuknya adalah serangkaian gerakan dan do’a. Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai prakteknya, hal ini tidak menjadi masalah karena di dalam al-Qur'an sendiri tidak ada ayat yang menjelaskan secara terperinci mengenai praktek shalat. 

Tafsir Tematik Tentang Shalat


Kewajiban dari seorang muslim hanyalah melaksanakan shalat dari mulai baligh sampai napas terakhir. Semua perbedaan mengenai praktek shalat bisa dikatan benar karena masing-masing memilki dasar dan pendapatnya masing-masing dan tentunnya berdasarkan ijtihad yang matang.  

Perintah Allah swt. yang di berikan kepada manusia tentunya memiliki faidah, seperti halnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat, salah satu faidahnya yakni supaya selalu mengingat Tuhannya dan bisa meminta karunianya dan manfaat yang lainnya yakni bisa mendapatkan ampunan dari Allah swt.


Definisi Sholat


Shalat secara etimologi berarti do’a. Sedangkan menurut terminologi syara’, menurut Syaikh Ibnu al-Qasim yang mengambil keterangan dari Imam ar-Rafi’i, yaitu:

أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيمِ بِشَرَائِطَ
“Ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat tertentu.”[1]

Syaikh Zainuddin bin Abd al-Aziz mendefinisikan, yaitu :
أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيمِ
“Ucapan dan perbuatan yang telah ditentukan, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.”[2]

Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mukallaf. Perintah tersebut diwajibkan oleh Allah, yang perintahnya disampaikan Allah secara langsung tanpa perantara malaikat, yaitu langsung kepada Nabi Muhammad sendiri pada peristiwa mi’raj.[3]

Posisi Perintah Sholat

Perintah shalat berawal saat Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa, untuk kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha guna menerima perintah shalat secara langsung.[4]

Shalat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad dan para pengikut beliau adalah shalat malam, yaitu sejak diturunkannya surat al
-Muzammil ayat 1-19. Setelah beberapa kemudian, turunlah ayat berikutnya, ayat 20. Berikut penafsiran surat al-Muzammil ayat 1 – 3 tentang mendirikan sholat.


{يَاأَيُّهَاالْمُزَّمِّلُ‏‏} النبي وأصل الْمُتَزَمِّل أُدْغِمَتْ التَّاء فِي الزَّاي أَيْ الْمُتَلَفِّف بِثِيَابِهِ حِين مَجِيء الْوَحْي لَهُ خَوْفًا مِنْهُ لهيبته ﴿۱{قُمِ اللَّيْلَ} صل {إِلَّاقَلِيلًا}﴿۲﴾{نِصْفَهُ} بَدَل مِنْ قَلِيلًا وَقِلَّته بِالنَّظَرِ إلَى الْكُلّ {أَوْاُنْقُصْمِنْهُ} مِنْ النِّصْف {قَلِيلًا} إلى الثلث﴿۳
(Hai orang yang berselimut) yakni Nabi Muhammad. Asal kata al-muzzammil ialah al-mutazammil, kemudian huruf ta diidghamkan kepada huruf za sehingga jadilah al-muzzammil, artinya, orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaian sewaktu wahyu datang kepadanya karena merasa takut akan kehebatan wahyu itu. (Bangunlah di malam hari) maksudnya, salatlah di malam hari (kecuali sedikit), (Yaitu seperduanya) menjadi badal dari lafal qaliilan; pengertian sedikit ini bila dibandingkan dengan keseluruhan waktu malam hari (atau kurangilah daripadanya) dari seperdua itu (sedikit) hingga mencapai sepertiganya.[5]

Berikut penafsiran surat al-Muzammil ayat 20 yang menasakh ayat sebelumnya.
{إنَّ رَبّك يَعْلَم أَنَّك تَقُوم أَدْنَى} أَقَلّ {مِنْ ثُلُثَيْ اللَّيْل وَنِصْفه وَثُلُثه} بِالْجَرِّ عَطْف عَلَى ثُلُثَيْ وَبِالنَّصْبِ عَلَى أَدْنَى وَقِيَامه كَذَلِكَ نَحْو مَا أَمَرَ بِهِ أَوَّل السُّورَة {وَطَائِفَة مِنْ الَّذِينَ مَعَك} عَطْف عَلَى ضَمِير تَقُوم وَجَازَ مِنْ غَيْر تَأْكِيد لِلْفَصْلِ وَقِيَام طَائِفَة مِنْ أَصْحَابه كَذَلِكَ لِلتَّأَسِّي بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى مِنْ اللَّيْل وَكَمْ بَقِيَ مِنْهُ فَكَانَ يَقُوم اللَّيْل كُلّه احْتِيَاطًا فَقَامُوا حَتَّى انْتَفَخَتْ أَقْدَامهمْ سَنَة أَوْ أكثر فخفف عنهم قال تعالى {وَاَللَّه يُقَدِّر} يُحْصِي {اللَّيْل وَالنَّهَار عَلِمَ إنْ} مُخَفَّفَة مِنْ الثَّقِيلَة وَاسْمهَا مَحْذُوف أَيْ أنه {لَنْ تُحْصُوهُ} أَيْ اللَّيْل لِتَقُومُوا فِيمَا يَجِب الْقِيَام فِيهِ إلَّا بِقِيَامِ جَمِيعه وَذَلِكَ يَشُقّ عَلَيْكُمْ {فَتَابَ عَلَيْكُمْ} رَجَعَ بِكُمْ إلَى التَّخْفِيف {فاقرؤوا مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآن} فِي الصَّلَاة بِأَنْ تُصَلُّوا مَا تَيَسَّرَ {عَلِمَ أَنْ} مُخَفَّفَة مِنْ الثَّقِيلَة أَيْ أَنَّهُ {سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْض} يُسَافِرُونَ {يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْل اللَّه} يَطْلُبُونَ مِنْ رِزْقه بِالتِّجَارَةِ وَغَيْرهَا {وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيل اللَّه} وَكُلّ مِنْ الْفِرَق الثَّلَاثَة يَشُقّ عَلَيْهِمْ مَا ذُكِرَ فِي قِيَام اللَّيْل فَخَفَّفَ عَنْهُمْ بِقِيَامِ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ثم نسخ ذلك بالصلوات الخمس {فاقرؤوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ} كَمَا تَقَدَّمَ {وَأَقِيمُوا الصَّلَاة} الْمَفْرُوضَة {وَآتُوا الزَّكَاة وَأَقْرِضُوا اللَّه} بِأَنْ تُنْفِقُوا مَا سِوَى الْمَفْرُوض مِنْ الْمَال فِي سَبِيل الْخَيْر {قَرْضًا حَسَنًا} عَنْ طِيب قَلْب {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْر تَجِدُوهُ عِنْد اللَّه هُوَ خَيْرًا} مِمَّا خَلَفْتُمْ وَهُوَ فَصْل وَمَا بَعْده وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعْرِفَة يُشْبِههَا لِامْتِنَاعِهِ مِنْ التَّعْرِيف {وَأَعْظَم أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّه إنَّ الله غفور رحيم} للمؤمنين‏ ﴿۲۰﴾  
(Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri, salat, kurang) kurang sedikit (dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya) jika dibaca nishfihi dan tsulutsihi berarti diathafkan kepada lafal tsulutsay; dan jika dibaca nishfahu dan tsulutsahu berarti diathafkan kepada lafal adnaa. Pengertian berdiri atau melakukan salat sunat di malam hari di sini pengertiannya sama dengan apa yang terdapat di awal surah ini, yakni sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya (dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu) lafal ayat ini diathafkan kepada dhamir yang terkandung di dalam lafal taquumu, demikian pula sebagian orang-orang yang bersamamu. Pengathafan ini diperbolehkan sekalipun tanpa mengulangi huruf taukidnya, demikian itu karena mengingat adanya fashl atau pemisah. Makna ayat secara lengkap, dan segolongan orang-orang yang bersama kamu yang telah melakukan hal yang sama. Mereka melakukan demikian mengikuti jejak Nabi saw. sehingga disebutkan, bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tidak menyadari berapa rakaat salat malam yang telah mereka kerjakan, dan waktu malam tinggal sebentar lagi. Sesungguhnya Nabi saw. selalu melakukan salat sunah sepanjang malam, karena demi melaksanakan perintah Allah secara hati-hati. Para sahabat mengikuti jejaknya selama satu tahun, atau lebih dari satu tahun, sehingga disebutkan bahwa telapak-telapak kaki mereka bengkak-bengkak karena terlalu banyak salat. Akhirnya Allah swt. memberikan keringanan kepada mereka. (Dan Allah menetapkan) menghitung (ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna sedangkan isimnya tidak disebutkan, asalnya ialah annahu (kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu) yaitu waktu malam hari. Kalian tidak dapat melakukan salat malam sesuai dengan apa yang diwajibkan atas kalian melainkan kalian harus melakukannya sepanjang malam. Dan yang demikian itu memberatkan kalian (maka Dia mengampuni kalian) artinya, Dia mencabut kembali perintah-Nya dan memberikan keringanan kepada kalian (karena itu bacalah apa yang mudah dari Alquran) dalam salat kalian (Dia mengetahui, bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna, lengkapnya annahu (akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi) atau melakukan perjalanan (mencari sebagian karunia Allah) dalam rangka mencari rezeki-Nya melalui berniaga dan lain-lainnya (dan orang-orang yang lain lagi, mereka berperang di jalan Allah) ketiga golongan orang-orang tersebut, amat berat bagi mereka hal-hal yang telah disebutkan tadi menyangkut salat malam. Akhirnya Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu mereka diperbolehkan melakukan salat malam sebatas kemampuan masing-masing. Kemudian ayat ini dinasakh oleh ayat yang mewajibkan salat lima waktu (maka bacalah apa yang mudah dari Alquran) sebagaimana yang telah disebutkan di atas (dan dirikanlah salat) fardu (tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah) seumpamanya kalian membelanjakan sebagian harta kalian yang bukan zakat kepada jalan kebajikan (pinjaman yang baik) yang ditunaikan dengan hati yang tulus ikhlas. (Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian akan memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang jauh lebih baik) dari apa yang telah kalian berikan. Lafal huwa adalah dhamir fashal. Lafal maa sekalipun bukan termasuk isim makrifat akan tetapi diserupakan dengan isim makrifat karena tidak menerima takrif (dan yang paling besar pahalanya. Mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang mukmin.[6]

Dengan diturunkannya ayat tersebut, hukum shalat malam menjadi sunnah. Maksudnya ayat tersebut menghapus kewajiban shalat malam yang pada awalnya Allah wajibkan bagi umat Islam.[7]

Sebagian ulama berpendapat bahwa belum pernah ada shalat yang diwajibkan sebelum isra mi’raj, kecuali ibadah yang dikerjakan pada waktu malam. Sedang
kan menurut Imam Syafi’i, mengutip informasi dari sebagian pakar, sebelumnya shalat sudah diwajibkan, kemudian hukum tersebut direvisi (naskh). Namun para ulama telah sepakat bahwa shalat lima waktu mulai diwajibkan dalam peristiwa isra mi’raj.[8]

Begitu juga surat an-Nisa ayat 103 menjelaskan tentang kewajiban shalat.

{فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلَاة} فَرَغْتُمْ مِنْهَا {فَاذْكُرُوا اللَّه} بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيح {قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبكُمْ} مُضْطَجِعِينَ أَيْ فِي كُلّ حَال {فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ} أَمِنْتُمْ {فَأَقِيمُوا الصَّلَاة} أَدُّوهَا بِحُقُوقِهَا {إنَّ الصَّلَاة كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا} مَكْتُوبًا أَيْ مَفْرُوضًا {مَوْقُوتًا} أَيْ مُقَدَّرًا وَقْتهَا فَلَا تُؤَخَّر عَنْهُ وَنَزَلَ لَمَّا بَعَثَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَائِفَة فِي طَلَب أَبِي سُفْيَان وَأَصْحَابه لَمَّا رَجَعُوا مِنْ أُحُد فَشَكَوْا الْجِرَاحَات‏ ﴿۱۰۳
(Dan apabila kamu telah menyelesaikan salat, maka ingatlah Allah) dengan membaca tahlil dan tasbih (baik di waktu berdiri maupun di waktu duduk dan berbaring) tegasnya pada setiap saat. (Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram) artinya aman dari bahaya (maka dirikanlah salat itu) sebagaimana mestinya. (Sesungguhnya salat itu atas orang-orang yang beriman adalah suatu kewajiban) artinya suatu fardu (yang ditetapkan waktunya) maka janganlah diundur atau ditangguhkan mengerjakannya. Ayat berikut turun tatkala Rasulullah saw. mengirim satu pasukan tentara untuk menyusul Abu Sofyan dan anak buahnya ketika mereka kembali dari perang Uhud. Mereka mengeluh karena menderita luka-luka.[9]

Kemudian surat al-Baqarah ayat 43 juga menjelaskan tentang kewajiban sholat.
{وَأَقِيمُوا الصَّلَاة وَآتُوا الزَّكَاة وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ} صَلُّوا مَعَ الْمُصَلِّينَ مُحَمَّد وَأَصْحَابه وَنَزَلَ فِي عُلَمَائِهِمْ وَكَانُوا يَقُولُونَ لِأَقْرِبَائِهِمْ الْمُسْلِمِينَ اُثْبُتُوا عَلَى دِين مُحَمَّد فَإِنَّهُ حَقّ‏ ﴿۴۳
(Dan dirikanlah salat, bayarkan zakat dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk) artinya salatlah bersama Muhammad dan para sahabatnya. Lalu Allah Taala menunjukkan kepada para ulama mereka yang pernah memesankan kepada kaum kerabat mereka yang masuk Islam, "Tetaplah kalian dalam agama Muhammad, karena ia adalah agama yang benar!"[10]

Cara Melakukan Shalat Sesuai Tuntunan Rasul

Bahwasanya al-Qur’an menjelaskan tata cara mendirikan shalat hanya berupa gambaran umumnya saja, yakni membaca Al-Qur’an waktu shalat, rukuk, dan sujud.

Membaca Al-Qur’an waktu sholat

… فَاقۡرَءُوۡا مَا تَيَسَّرَ مِنۡهُ‌ ۙ وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ …
“…maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang…” (QS. Al-Muzammil: 20)

Terdapat sikap yang berbeda-beda diantara para ulama tentang apakah bacaan al-Fatihah dalam shalat harus dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Pendapat dalam hal ini, Syafi’iyah mengatakan bahwa hukum bacaan al-Fatihah adalah wajib. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw.
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihahnya al-Kitab.” (H.R. al-Bukhari No. 723).

Ada beberapa alasan yang dipakai madzhab Syafi’i untuk menguatkan pendapatnya. Pertama, dengan menggunakan bahasa Arab sisi I’jaz al-Fatihah dapat dipertahankan. Karena jika dialihbahasakan ke dalam bahasa ajam, niscaya sisi I’jaznya akan hilang. Kedua, jika dialihbahasakan ke selain bahasa Arab, berarti bukan al-Qur’an lagi. Ini bertentangan dengan firman Allah swt.

إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿۲
“Sesungguhnya, Kami menurunkan berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (Q.S. Yusuf: 2)

Berbeda dengan pendapat Hanafiyah, bacaan al-Qur’an dalam shalat bukan sebuah rukun. Menurut pendapat ini, pertama, diturunkannya al-Qur’an adalah sebagai petunjuk, pedoman, dan pembimbing bagi umat. Pesan-pesan yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dengan bahasa sendiri. Kedua, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa yang diwajibkan dalam shalat hanya membaca ayat-ayat yang mudah.[11]
...فاقرؤوا مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآن...﴿۲۰
“Maka, bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an.” (Q.S. al-Muzammil: 20) 

Rukuk dan Sujud

{يأيها الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا} أَيْ صَلُّوا {وَاعْبُدُوا رَبّكُمْ} وَحِّدُوهُ {وَافْعَلُوا الْخَيْر} كَصِلَةِ الرَّحِم وَمَكَارِم الْأَخْلَاق {لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} تَفُوزُونَ بِالْبَقَاءِ فِي الْجَنَّة﴿۷۷﴾
(Hai orang-orang yang beriman! Rukuk dan sujudlah kalian) salatlah kalian (dan sembahlah Rabb kalian) tauhidkanlah Dia (dan perbuatlah kebaikan) seperti menghubungkan silaturahim dan melakukan akhlak-akhlak yang mulia (supaya kalian mendapat keberuntungan) kalian beruntung karena dapat hidup abadi di surga.[12](QS. Al-Hajj: 77)

Sedangkan untuk gerakan secara terperinci, Nabi Muhammad menjelaskan dalam sunnahnya, yakni :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
Dari Abu Hurairah ra. Berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu hendak mendirikan Shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah bagi kamu dari Al-Qur’an. Kemudian ruku’ lah sehingga kamu thuma’ninah dalam ruku’. Kemudian bangunlah (dari ruku’) sampai kamu tegak berdiri (I’tidal). Kemudian sujudlah sehingga kamu thuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangunlah (dari sujud) sampai kamu thuma’ninah dalam duduk. Dan lakukanlah demikian itu dalam setiap shalatmu.” (Shahih Bukhari)[13]

Membungkuk dalam beberapa tradisi dianggap sebagai cara penghortamatan. Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa praktik shalat para Nabi berbeda-beda. Tata cara shalat yang dikenal sekarang ini adalah termasuk tata cara khusus yang menjadi keistimewaan umat Muhammad.

Dalam tuntunan shalat yang diajarkan Nabi, ketika melakukan rukuk hendaknya melafalkan zikir tertentu yang mengandung penyucian dan pengagungan kepada Allah. Berbeda dengan zikir yang dilafalkan ketika sujud mengandung penyucian dan pengakuan kemahatinggian kepada Allah, bahkan menyebut-Nya sebagai Dzat yang paling tinggi (al-A'la). Ulama menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara posisi sujud dan zikir yang dilafalkan.


Posisi sujud menunjukkan puncak tawadhu'  dan hal ini selaras dengan penggunaan kata al-A'la yang berbentuk Af'al at-Tafdhil (menunjukkan arti lebih), sebab posisi sujud dinilai lebih mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya dibandingkan rukuk.[14]


Apabila rukuk dan sujud tidak sempurna, maka dapat dikatakan belum mencapai ketundukan dan kerendahan yang diharapkan. Maksudnya akan semakin jauh untuk meraih kesempurnaan shalat, yaitu merasakan khusyu’, tunduk, rendah, dan tenang.[15]

Alat Ukur Keberhasilan Sholat Sesuai Petunjuk Allah

Ayat yang menerangkan tentang keberhasilan shalat sesuai petunjuk Allah dalam surat al-Mu’minun.
{قَدْ} للتحقيق {أَفْلَحَ} فاز {الْمُؤْمِنُونَ}﴿۱﴾  {الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتهمْ خَاشِعُونَ} مُتَوَاضِعُونَ ﴿۲﴾
(Sesungguhnya) lafal Qad di sini menunjukkan makna Tahqiq, artinya sungguh telah pasti (beruntunglah) berbahagialah (orang-orang yang beriman). (Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya) dengan merendahkan diri penuh perasaan kepada Allah.(QS. Al-Mu’minun: 1-2)[16]

Yakni sungguh telah beruntung, berbahagia, dan beroleh keberhasilan mereka yang beriman. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Khasyi'un," bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah lagi tenang. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Az-Zuhri. Telah diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Talib r.a. bahwa khusyuk artinya ketenangan hati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, ketenangan hati mereka membuat mereka merundukkan pandangan matanya dan merendahkan dirinya.
Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa dahulu sahabat-sahabat Rasulullah saw. selalu mengarahkan pandangan mata mereka ke langit dalam salatnya. Tetapi setelah Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al Mu’minun: 1-2) Maka mereka merundukkan pandangan matanya ke tempat sujud mereka. Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa sejak saat itu pandangan mata mereka tidak melampaui tempat sujudnya. Dan apabila ada seseorang yang telah terbiasa memandang ke arah langit, hendaklah ia memejamkan matanya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Kemudian Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui ibnu Abbas —juga Ata ibnu Abu Rabah— secara mursal, bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan hal yang serupa (memandang ke arah langit) sebelum ayat ini diturunkan.
Khusyu dalam salat itu tiada lain hanya dapat dilakukan oleh orang yang memusatkan hati kepada salatnya, menyibukkan dirinya dengan salat, dan melupakan hal yang lainnya serta lebih baik mementingkan salat daripada hal lainnya. Dalam keadaan seperti ini barulah seseorang dapat merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam salatnya.[17]

Sebab-sebab turunnya, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa apabila Rasulullah saw shalat, beliau duka memandang ke langit, maka turunlah ayat ini sebagai petunjuk bagi orang yang shalat. Sejak saat itu beliau shalat dengan menundukkan kepala. (Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dengan lafal: “Rasulullah saw, pernah menoleh pada waktu shalat.” Diriwayatkan pula oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Ibnu Sirin dengan lafal: “Rasulullah melirikkan matanya pada waktu shalat.” Hadits ini Mursal.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa apabila para sahabat shalat, mereka suka memandang langit. Maka turunlah ayat ini sebagai petunjuk bagaimana seharusnya shalat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Sirin. Hadits ini Mursal.)[18]


Penafiran surat al-Ankabut ayat 45
, tentang shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
{اُتْلُ مَاأُوحِيَ إلَيْك مِنْ الْكِتَاب} الْقُرْآن {وَأَقِمْ الصَّلَاة إنَّ الصَّلَاة تَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَر} شَرْعًاأَيْ مِنْ شَأْنهَاذَلِكَ مَادَامَ الْمَرْءفِيهَا {وَلَذِكْراللَّه أَكْبَر} مِنْ غيره من الطاعات {وَاَللَّه يَعْلَم مَاتَصْنَعُونَ} فَيُجَازِيكُمْ بِهِ‏ ﴿۴۵
(Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alkitab) kitab al-Quran (dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar) menurut syariat seharusnya salat menjadi benteng bagi seseorang dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar, selagi ia benar-benar mengerjakannya. (Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keutamaannya) daripada ibadah-ibadah dan amal-amal ketaatan lainnya. (Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan) maka Dia membalasnya kepada kalian.[19](QS. Al-Ankabut: 45)

Shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan mendorong pelakunya dapat menghindarinya. Di dalam sebuah hadis melalui riwayat Imran dan Ibnu Abbas secara marfu' telah disebutkan:
"مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا"
Barang siapa yang salatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah.[20]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bujayrami, Sulaiman. Hasyiyah al-Bujayrami ala al-Khatib. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003.
Al-Bayjuri, Ibrahim. Hasyiyah as-Syaikh Ibrahim al-Bayjuri ala Syarh Ibn al- Qasim al-Ghazzi ala Matn Abi Syuja’. Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2013.
An-Nadwi, Abu al-Hasan Ali al-Hasani. As-Sirah an-Nabawiyah. Jedah: Darus Syuruq, 1989.
Arifin, Gus. Fiqh Untuk Para Profesional. Jakarta: PT Elexmedia Komputindo, 2012.
Ash-Shawy, Ahmad. Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
As-Suyuthi, Jalaluddin. Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul. Beirut: Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, 2002.
Bakr, Abu. Hasyiyah I’anah ath-Thalibin ala Hali Alfadhi Fath al-Muin. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2009.
Forum Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009 Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Kearifan Syariat. Kediri: Lirboyo Press, 2013.
Katsir, Ibnu. Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Lengkap - Edisi Light



[1] Ibrahim al-Bayjuri, Hasyiyah as-Syaikh Ibrahim al-Bayjuri ala Syarh Ibn al-Qasim al-Ghazzi ala Matn Abi Syuja’. (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2013), 231.
[2] Abu Bakr, Hasyiyah I’anah ath-Thalibin ala Hali Alfadhi Fath al-Muin. (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2009), 43.
[3] Seringkali masyarakat menggabungkan Isra Mikraj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad diberangkatkanoleh Allah dari Masjid al-Haram hingga Masjid al-Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad  dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini beliau mendapat perintah langsung dari Allah untuk menunaikan salat lima waktu.
[4] Abu al-Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi. As-Sirah an-Nabawiyah. (Jedah: Darus Syuruq, 1989), 162.
[5] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-JalalainJilid4. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 338 – 339.
[6] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid 4. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 343.
[7] Gus Arifin, Fiqh Untuk Para Profesional. (Jakarta: PT Elexmedia Komputindo, 2012), 76.
[8] Forum Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009 Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Kearifan Syariat. (Kediri: Lirboyo Press, 2013), 170.
[9] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid 1. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 323.
[10] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid 1. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 47.
[11] Forum Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009 Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Kearifan Syariat. (Kediri: Lirboyo Press, 2013), 208-209.
[12] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid III. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 134.
[13]Gus Arifin, Fiqh Untuk Para Profesional. (Jakarta: PT Elexmedia Komputindo, 2012), 111-112.
[14] Sulaiman al-Bujayrami, Hasyiyah al-Bujayrami ala al-Khatib. (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003), 72.
[15] Forum Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009 Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Kearifan Syariat. (Kediri: Lirboyo Press, 2013), 190.
[16] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid IV. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 136.
[17] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Lengkap - Edisi Light
[18] Jalaluddin as-Suyuthi, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul. (Beirut: Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, 2002), 179.
[19] Ahmad ash-Shawy, Hasyiyah ash-Shawy ala Tafsir al-Jalalain Jilid III. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 291.
[20] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Lengkap – Edisi Light


Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon