Tumbal Dan Sesajen Menurut Pandangan Islam

Tumbal Dan Sesajen Menurut Pandangan Islam - Tumbal dan sesajen sudah menjadi tradisi yang melekat di masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Tidak mengherankan bahwa fenomena tersebut lazim sekali ditemui di masyarakat Jawa, karena hal itu di dasari oleh keyakinan-keyakinan nenek moyang terdahulu yang mayoritas menganut animisme dan dinamisme. Namun sejak masuknya agama Islam di tanah Jawa yang di tandai dengan kedatangan para walisongo, tradisi-tradisi itupun sedikit demi sedikit mulai dirubah dan dihilangkan karena termasuk hal-hal yang dilarang oleh syariat Islam dan termasuk dosa besar, yaitu syirik.
Tumbal Dan Sesajen Menurut Pandangan Islam


Di sisi lain, sampai saat ini masih ada segelintir masyarakat awam yang beragama Islam, namun masih saja melaksanakan tradisi tersebut. Oleh karena itu bagaimana solusi untuk mengatasi hal tersebut ? Dalam memberikan solusi, sebaiknya tidak langsung melarang secara keras dan menghentikan tradisi tersebut secara tiba-tiba, karena hali itu bisa menyebabkan keresahan dan penolakan dari masyarakat yang bersangkutan, namun menghentikannya secra bertahap atau dengan merubah tradisi yang demikian menjadi tradisi yang tidak betentangan dengan syariat Islam.

Sekilas Tentang Tumbal dan Sesajen

Dalam kamus bahasa Indonesia, tumbal dikatakan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menolak penyakit, tolak bala’, dan sebagainya. Sedangkan sesajen merupakan makanan atau bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada makhluk halus.
Tumbal dalam prakteknya lebih khusus atau identik dengan sesembelihan, sedangkan sesajen biasanya berbentuk makanan yang siap dihidangkan. Sesajen merupakan warisan nenek moyang yang iasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Misalnya upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada dewi sri (dewi padi dan kesuburan), upacara nglarung (membuang kesialan di laut).

Adapun tumbal dilakukan dalam bentuk sesembelihan. Misalnya menyembelih ayam dengan ciri-ciri khusus untuk menyebuhkan penyakit atau untuk menolak kecelakaan, menyembelih sapi atau kerbau lalu kepalanya ditanam ke dalam tanah yang diatasnya akan dibangun sebuah gedung atau proyek, dengan harapan proyek tersebut berjalan dengan lancar.



 











Pada prinsipnya, sesajen dan tumbal merupakan aktifitas persembahan sesuatu kepada makhluk halus dengan harapan agar yang diberi persembahan tidak mengganggu atau mencelakai.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para sesepuh di berbagai daerah, tumbal dan sesajen masuk dalam daftar sesuatau yang dilarang dalam syariat Islam, karena mengandung beberapa masalah yang memang pada dasarnya dilarang dalam syariat, diantaranya:


Meminta perlindungan dan hajat yang berdasarkan atas keyakinan bahwa roh dan jin bisa mendatangkan kemanfaatan dan menyebabkan kesialan tanpa peran Allah.

Islam menjelaskan, manfaat dan madharat hanya berasal dari Allah
, tidak ada satu makhluk pun yang bisa memberikan manfaat dan menghilangkan madharat kecuali dengan izin Allah.[1]
Hal ini s
esuai dalam firman-Nya QS. Yunus: 106 – 107.
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim".
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
 Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat diatas dapat disimpulkan  bahwasanya hanya Allah semata yang mendatangkan manfaat dan menghilangkan madharat. Tidak satupun makhluk yang mampu melakukannya kecuali atas izin Allah.[2]


Mengalokasikan makanan dan harta benda tanpa alasan yang tidak dapat dibenarkan oleh syariat Islam.

Hal ini sebagaiman
a dalam firman Allah dalam QS. Al-Isra: 27
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
 Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Penyia-nyian harta terdapat juga dalam hadits Rasulullah saw. yang berbunyi sebagai berikut:
حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْمُسَيَّبِ عَنْ وَرَّادٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Al Musayyib dari Warrad dari Al Mughirah bin Syu'bah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, tidak suka memberi namun suka meminta-minta dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan membenci atas kalian tiga perkara, yaitu; suka desas-desus, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.“
(Kitab Shahih Bukhari Bab Adab No. Hadits 5518)

Rasulullah
- Al Mughirah bin Syu’bah bin Abi ‘Amir - Warrad - Al Musayyab bin Rafi’ - Manshur bin Al Mu’tamir - Syaiban bin ‘Abdur Rahman - Sa’d bin Hafsh

Al Mughirah bin Syu’bah bin Abi ‘Amir
Kalangan              : Sahabat
Kunyah                : Abu ‘Isa
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        : 50 H
Komentar            : Sahabat

Warrad
Kalangan              : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan
Kunyah                : Abu Said
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        :
Komentar             : Adz Dzahabi mengatakan Tsiqah

Al Musayyab bin Rafi’
Kalangan              : Tabi’ut kalangan biasa
Kunyah                : Abu Al ‘Alaa’
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        : 105 H
Komentar             : Adz Dzahabi mengatakan Hujjah

Manshur bin Al Mu’tamir
Kalangan             : Tabi’ut (tidak jumpa Sahabat)
Kunyah                : Abu ‘Ittab
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        : 132 H
Komentar             : Abu Hatim mengatakan Tsiqah

Syaiban bin ‘Abdur Rahman
Kalangan             : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
Kunyah                : Abu Mu’awiyah
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        : 164 H
Komentar            : Adz Dzahabi mengatakan Hujjah

Sa’d bin Hafsh
Kalangan             : Tabi’ut Atba’ kalangan tua
Kunyah                : Abu Muhammad
Negeri Hidup       : Kufah
Tahun Wafat        : 215 H
Komentar            : Ibnu Hajar mengatakan Tsiqah

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
Telah menceritakan kepada kami 'Utsman telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Asy-Sya'biy dari Warrad, maula Al Mughirah bin Syu'bah dari Al Mughirah bin Syu'bah berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup dan serta membenci kalian dari qiila wa qala (memberitakan setiap apa yang didengar), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta".
(Kitab Shahih Bukhari Bab Larangan Dari Menyia-nyiakan Harta No. Hadits 2231)

Rasulullah - Al Mughirah bin Syu’bah - Warrad - Asy-Sya’biy - Manshur - Jarir - Utsman

Al Mughirah bin Syu’bah bin Abi ‘Amir
Kalangan               : Sahabat
Kunyah                 : Abu ‘Isa
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         : 50 H
Komentar             : Sahabat

Warrad
Kalangan               : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan
Kunyah                 : Abu Said
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         :
Komentar             : Adz Dzahabi mengatakan Tsiqah

Amir bin Syarahil
Kalangan               : Tabi’in kalangan pertengahan
Kunyah                 : Abu ‘Amru
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         : 104 H
Komentar             : Adz Dzahabi mengatakan Hujjah

Manshur bin Al Mu’tamir
Kalangan               : Tabi’ut (tidak jumpa Sahabat)
Kunyah                 : Abu ‘Ittab
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         : 132 H
Komentar             : Abu Hatim mengatakan Tsiqah

Jarir bin Abdul Hamid bin Qarth
Kalangan               : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan
Kunyah                 : Abu Abdullah
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         : 188 H
Komentar             : Abu Hatim mengatakan Tsiqah

Utsman bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman
Kalangan               : Tabi’ut Atba’ kalangan tua
Kunyah                 : Abu Hasan
Negeri Hidup        : Kufah
Tahun Wafat         : 239 H
Komentar             : Adz Dzhabi mengatakan Hafizh

Imam at-Thabari dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud pemborosan dalam ayat tersebut adalah orang yang mengalokasikan hartanya untuk maksiat kepada Allah.[3] Dan terkait dengan hadits diatas, Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa ada beberapa pendapat berkenaan dengan apa yang dimaksud dari Idha’atu al-Mal, diantaranya sebagai berikut: 
1. Berlebihan dalam men-tasarufkan harta.
2. Men-tasarufkan harta kedalam hal-hal yang diharamkan. 
3. Men-tasarufkan harta kedalam hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh syariat Islam 
 

Solusi Bijak

Dengan menhilangkan sisi-sisi yang dilarang syariat dan mengubahnya dengan hal-hal baik. Solusi tersebut telah diberikan oleh wali songo dengan mengubahnya menjadi selametan. Keyakinan yang berbau animisme dan dinamisme dirubah menjadi keyakinan yang Islami dengan cara memasukkan doa yang hanya ditujukan kepada Allah semata.
Doa tersebut berisikan memohon agar selalu diberi keberkahan dalam segala hal dan memohon agar selalu dilindungi dari segala marabahaya.

Sedangkan untuk menghilangkan sisi penyia-nyiaan harta yang dialarang oleh syariat, wali songo merubahnya dengan upaya mensedekahkan makanan kepada warga sekitar, sehingga makanan tersebut bermanfaat dan statusnya menjadi sedekah.

Perubahan inipun selaras dengan tujuan awal dari tradisi yaitu agar mendapat keberkahan dan dijauhkan dari segala marabahaya, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh berbagai hadits Rasulullah.

(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَبَّاسِ ، ثنا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ ، ثنا حَمَّادُ بْنُ شُعَيْبٍ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَسْرُوقٍ ، عَنْ عَبَايَةَ بْنِ رِفَاعَةَ ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ الشَّرِّ " 
“Sedekah dapat menutup tujuh puluh pintu kejelekan (petaka).”
Hadits ini marfu’ yaitu setiap hadis yang dinisbahkan kepada Nabi saw, baik perkataan, pekerjaan, taqrir (ketetapan) atau sifat.
(Kitab at-Targhib fi Fadhai’ilil A’mal li Ibni Syahin, Babu Fadhli ash-Shadaqat No. Hadits 384)

Rasulullah - Rafi’ bin Khadij - Abayah bin Rifa’ah - Said bin Masruq - Hammad bin Syuaib - Jubarah bin Mughallis - Ja’far bin Muhammad bin Abbas

Rafi’ bin Khadij
Kalangan                     : Sahabat
Kunyah                       : Abu Abdullah
Negeri Hidup             : Madinah
Tahun Wafat               : 73 H
Komentar                    : Sahabat

Abayah bin Rifa’ah bin Rafi
Kalangan                     : Tabi’in kalangan pertengahan
Kunyah                       : Abu Rifa’ah
Negeri Hidup             : Madinah
Tahun Wafat               :
Komentar                    : Adz Dzahabi mengatakan Tsiqah

Said bin Masruq
Kalangan                     : Tabi’in tidak Sahabat
Kunyah                       : Abu Sufyan
Negeri Hidup             : Kufah
Tahun Wafat               : 127 H
Komentar                    : Adz Dzahabi mengatakan Tsiqah

Hammad bin Syuaib
Kalangan                     :
Kunyah                       : Abu Syuaib
Negeri Hidup             : Kufah
Tahun Wafat               :
Komentar                    : Abu Zar’ah mengatakan Dha’if

Jubarah bin Mughallis
Kalangan                     :
Kunyah                       : Abu Muhammad
Negeri Hidup             : Kufah
Tahun Wafat               :
Komentar                    : Adz Dzahabi Dha’if

Ja’far bin Muhammad bin Abbas
Kalangan                     :
Kunyah                       : Abu Qasim
Negeri Hidup             : Baghdad
Tahun Wafat               :
            Komentar                    : Ad Daruquthni mengatakan Laa Yusawi Syai’an

Selanjutnya berkenaan dengan penyembelihan hewan, ketika dalam menyembelih niatnya semata karena Allah dan agar dijauhkan dari kejahatan jin-jin yang biasa mengganggu manusia. Namun jika sebaliknya maka hal tersebut tidak diperbolehkan.[4] 
Uraian diatas memberi kesimpulan bahwa tradisi tumbal dan sesajen tidak selaras dengan tuntunan syariat Islam, akan tetapi bisa dilestarikan dengan mengganti keyakinan serta prosesi dengan hal-hal yang bernilai Islami.
 

Kesimpulan

Manfaat dan madharat secara hakikat semua berasal dari Allah, artinya tidak boleh memiliki keyakinan bahwa jin, penunggu dan sejenisnya dapat memberikan manfaat adan kemadharatan.
Untuk menolak bala dan mengharap keberkahan sebaiknya dengan menggelar tasyakuran yang selaras dengan tuntunan syariat.
Tradisi sesajen dan tumbal tidak dapat dibenarkan, sedangkan solusi maslah ini adlah mengganti prosesi dengan selametan yang diisi dengan berdoa kepada Allah dan aneka ragam makanan di sedekahkan.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Maktabah Syamilah
Kitab Hadits 9 Imam
Mausu’ah
As-Sayyid Muhammad Ibn ‘Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahhaha. Malang: Maktabah Ash-Shafwah, tt.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath AL-Bari Juz 10. Lebanon: Dar Al-Kutub, 2003.
Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari. Tp: Maktabah Dar Al-Hijr, tt.
Al-Malibari, Syaikh Zainuddin Ibn Abdul Aziz asy-Syafi’I, Fath al-Muin Ma’a I’anah ath-Thalibin, Juz 2. Lebanon: Maktabah Dar al-Fikr,tt.



[1] As-Sayyid Muhammad Ibn ‘Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahhaha. (Malang: Maktabah Ash-Shafwah, tt), 180
[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath AL-Bari Juz 10. (Lebanon: Dar Al-Kutub, 2003), 500.
[3] Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari. Maktabah Dar Al-Hijr.
[4] Al-Malibari, Syaikh Zainuddin Ibn Abdul Aziz asy-Syafi’I, Fath al-Muin Ma’a I’anah ath-Thalibin, Juz 2 Maktabah Dar al-Fikr, 349.


Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon