Tinjauan Para Ahli Tentang Kesulitan Belajar

TINJAUAN PARA AHLI TENTANG KESULITAN BELAJAR

A. Aspek Teoritik
Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar yang tidak didasarkan landasan teoritik, maka tidak akan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Misal, semua guru mengetahui bahwa motivasi dapat meingkatkan prestasi belajar. Namun, tidak mengetahui bagaimana cara membangkitkan motivasi belajar. Misal, guru beranggapan bahwa kompetisi dapat membangkitkan motivasi belajar. Namun, guru lupa bahwa kompetisi antarindividu tidak seimbang karena setiap individu memiliki kemampuan heterogen.



Oleh karena itu, guru perlu mempunyai pengetahuan teoritik sebagai bekal menciptakan strategi pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dan membangun kepribadian anak.

1. Peranan Teori dalam Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar
Dalam mendidik anak berkesulitan belajar membutuhkan teori yang dapat digunakan sebagai landasan yang dapat diandalkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan anak. Teori digunakan untuk menjelaskan fenomena kesulitan belajar, meramalkan peristiwa yang mungkin terjadi, dan untuk mengontrol atau mengendalikan agar kesulitan belajar tidak terjadi atau bertambah parah.

2. Pelayanan Pengajaran Remedial bagi Anak Berkesulitan Belajar
Guru melakukan evaluasi pada anak-anak yang belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan, supaya tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai. Terutama bagi anak yang berkesulitan belajar, guru perlu memberikan pelayanan pendidikan yang khusus. Sebelum penagajaran remedial diberikan, ada prosedur dan prinsip pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar.

a. Prosedur Diagnosis
Ada tujuh prosedur yang harus dilalui dalam diagnosis, yaitu identifikasi, menentukan prioritas, menentukan potensi anak, menentukan taraf kemampuan, menentukan gejala kesulitan, menganalisis faktor-faktor yang terkait, dan menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial.

Identifikasi dapat dilakukan dengan memperhatikan laporan guru kelas berupa hasil tes intelegensi atau melalui observasi. Laporan tersebut berguna untuk mengelompokkan anak, sehingga guru dapat memberikan pelayanan yang sesuai.

Menentukan prioritas, pihak sekolah perlu menentukan prioritas anak mana yang diperkirakan mendapat pelayanan pengajaran remedial, sehingga anak mendapatkan pelayanan dengan baik.

Menentukan potensi, untuk menentukan potensi anak diperlukan tes intelegensi untuk memberikan pengajaran yang sesuai.

Menentukan penguasaan bidang studi yang perlu di remedi, guru perlu memiliki data tentang prestasi belajar anak dan membandingkan dengan taraf intelegensinya.

Menentukan gejala kesulitan, guru perlu melakukan obervasi cara anak belajar untuk mengetahui penyebab suatu kesulitan. Gejala kesulitan dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan diagnosis, sehingga dapat menentukan strategi pembelajaran.

Analisis berbagai faktor yang terkait, guru perlu melakukan analisis terhadap hasil-hasil pemeriksaan ahli-ahli lain seperti psikolog, dokter, dan konselor.Kemudian dikaitkan dengan hasil obervasinya, sehingga guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien.

Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial, berdasarkan hasil diagnosis guru dapat menyusun suatu rekomendasi penyelenggaraan program pengajaran remedial bagi anak berkesulitan belajar.

b. Prinsip Diagnosis
Ada beberapa prinsip diagnosis yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu terarah pada perumusan metode perbaikan, efisien, menggunakan catatan kumulatif, memperhatikan berbagai informasi terkait, valid reliable, penggunaan tes baku, penggunaan prosedur informal, kantitatif, berkesinambungan.

Terarah pada perumusan metode perbaikan diagnosis hendaknya mengumpulkan berbagai informasi yang bermanfaat untuk menyusun suatu program perbaikan.

Diagnosis harus efisien, mendiagnosis anak berkesulitan belajar membutuhkan waktu yang lama.Diagnosis hendaknya berlangsung sesuai dengan derajat kesulitan anak.Evaluasi rutin psikologis, dapat memberikan informasi diagnostik yang berharga.

Penggunaan catatan kumulatif, guru membuat catatan kumulatif sepanjang tahun kehidupan anak di sekolah.Untuk meberikan informasi yang digunakan sebagai landasan untuk menentukan pengelompokan anak sesuai tingkat kesulitannya.

Valid dan reliable, hendaknya mengumpulkan informasi yang tepat bermanfaat yang dapat digunakan landasan menentukan program pengajaran. Penggunaan berbagai tes yang tidak bermanfaat hendaknya dihindari karena akan menjemukan anak.

Penggunaan tes baku, menggunakan tes baku yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, misal tes intelegensi.

Penggunaan prosedur informal, meski hasil tes baku memebrikan informasi yang tapat dan efisien, penggunaan prosedur informal sering memberikan manfaat yang bermakna bagi guru. Guru hendaknya melakukan evaluasi pada anak dan tidak terlalu terikat secara baku oleh tes baku.

Kuantitatif, dalam melakukan diagnosis hendaknya didasarkan pada pola-pola dalam bentuk angka. Untuk mengetahui kesenjangan antara potensi dengan prestasi belajar anak.

Berkesinambungan, saat melakukan diagnosis hendaknya dilakukan berkesinambungan untuk memperbaiki atau meningkatkan efektivitas dan efisiensi program pengajaran.

3. Hubungan Antara Pendidikan Luar Biasa dengan Pendidikan pada Umumnya
Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar merupakan bagian dari pendidikan luar biasa. Pendidikan luar biasa bukan merupakan pendidikan yang secara keseluruhan berbeda dari pendidikan pada umumnya. Hendaknya pelayanan pendidikan anak luar biasa dan anak pada umumnya dibedakan hanya untuk keperluan pembelajaran, bukan pendidikan. Guna untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan belajar yang terprogram, terkontrol, dan terukur. Integrasi antara anak-anak luar biasa dengan anak-anak pada umumnya akan menjadikan anak-anak saling menghargai, menjalin kerjasama, menghargai perasaan dan pikiran orang lain, dan tenggang rasa. Maka pelayanan pendidikan luar biasa dapat diintegrasikan dengan pelayanan pendidikan pada umumnya

4. Berbagai Teori tentang Proses dan Hasil Belajar
Pendidikan anak berkesulitan belajar tidak pernah lepas dari pembahasan proses belajar dan hasil belajar.

a. Hakikat Proses Belajar
Belajar merupakan proses individu yang berupaya mencapai tujuan belajar, berupa hasil belajar yaitu perubahan perilaku. Pandangan guru mengenai hakikat proses belajar akan ikut menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah kesulitan belajar. Ada dua tinjauan tentang proses belajar, yaitu tinjauan psikologik dan tinjauan neurofisiologik. Berdasarkan tinjauan psikologik ada dua teori belajar, yaitu behavioristik dan kognitif. Behavioristik memandang manusia sebagai makhluk pasif yang dipengaruhi oleh stimulus. Kognitif memandang manusia sebagai makhluk aktif yang bebas membuat pilihan.

Tinjauan neurofisiologik menunjukkan bahwa struktur otak merupakan hasil interaksi antarpola genetik dengan lingkungan. Berarti bahwa neurofisiologik mempertemukan dua teori belajar, behavioristik dan kognitif.

b. Hakikat Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui proses belajar.Hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha yang dilakukan oleh anak. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi, kesempatan yang diberikan pada anak, dan penguasaan awal tentang materi yang akan dipelajari. Memberikan ulangan penguatan juga berpengaruh terhadap hasil belajar, lebih-lebih pada anak berkesulitan belajar.

B. Aspek Medis
Ilmu kedokteran terlibat dalam upaya penggulangan kesulitan belajar.Dokter-dokter ahli dapat menjadi salah satu anggota tim yang sangat penting dalam memecahkan masalah kesulitan belajar.

1. Manfaat Informasi Medis bagi Guru
Ada lima manfaat informasi medis bagi guru, yaitu guru dapat lebih memahami bahwa belajar merupakan suatu proses neurologis yang terjadi dalam otak, menyadari bahwa dokter spesialis sering memberikan sumbangan baik dalam pemecahan kesulitan belajar, dapat menginterpretasikan laporan medis tentang anak dan mendiskusikan temuan-temuannya dengan dokter dan orangtua, memahami bahwa beberapa kesulitan belajar dapat ditemukan karena kemjuan teknologi kedokteran, dan penemuan-penemuan ilmiah tentang otak manusia dan belajar dapat meningkatkan pemahaman guru tentang hakikat kesulitan belajar.

2. Terminologis Medis
Dokter spesialis umumnya lebih menyukai untuk menggunakan terminologi DMO (disfungsi minimal otak) atau MBD (minimal brain dysfunction) yang disarankan oleh Clements sebagai pengganti brain injured, sedangkan Asosiasi Psikiater Amerika Serikat menyarankan penggunaan terminilogi AAD (attention deficit disorder) sebagai pengganti MBD. AAD (attention deficit disorder) dibagi menjadi dua tipe, yaitu dengan hiperaktivitas dan tanpa hiperaktivitas.

Kriteria anak yang memiliki gangguan kekurangan perhatian dengan hiperaktivitas.
a. Kurang perhatian
b. Impulsif
c. Hiperaktivitas
d. Sering mengembara tanpa tujuan
e. Terjadi sebelum usia tujuh tahun
f. Durasi atau lamanya paling sedikit enam bulan
g. Bukan karena schizorphrenia, gangguan aktif, atau retardasi mental berat

Gangguan kekurangan perhatian tanpa hiperaktivitas memilik sifat yang sama dengan gangguan kekurangan perhatian dengan hiperaktivitas kecuali tidak adanya hiperaktivitas.

3. Peranan Berbagai Spesialis Ilmu Kedokteran dalam Penanggulangan Kesulitan Belajar
Ada berbagai spesialis ilmu kedokteran yang terkait dengan upaya penanggulangan kesulitan belajar, yaitu pediatri, neurologi, optalmologi, otologi, dan psikiatri.

a. Pediatri
Dokter spesialis anak memiliki posisi yang penting untuk secara aktif mengembangkan komunikasi yang baik antara dunai medis dengan dunia pendidikan.

b. Neurologi
Jika kesulitan belajar diduga disebabkan adanya gangguan neurologis, maka anak perlu dikirim ke seorang dokter spesialis saraf.

c. Optalmologi
Dokter spesialis mata berperan penting terhadap anak yang memiliki kesulitan belajar membaca.

d. Otologi
Anak yang mengalami kesulitan belajar bahasa sering memerlukan dokter spesialis pendengaran, karena kemampuan berbahasa terkait erat dengan kemampuan mendengarkan.

e. Psikiatri
Dokter spesialis kesehatan mental berperan penting dalam menangani anak berkesulitan belajar yang berkaitan dengan faktor-faktor emosional.

4. Keterlibatan Terapi Medis dalam Penanggulangan Kesulitan Belajar
Berbagai jenis terapi medis untuk menanggulangi kesulitan belajar, yaitu terapi obat, diet, terapi alergi, dan modifikasi perilaku.

C. Aspek Psikologis
Psikologi terus-menerus terlibat dalam upaya penanggulangan kesulitan belajar. Maka banyak anak berkesulitan belajar yang dikirm oleh guru ke psikolog untuk memperoleh pemeriksaan psikologis.

1. Aspek Psikologi Perkembangan dari Kesulitan Belajar
Ada dua konsep yang perlu diperhatikan, yaitu kelambatan kematangan dan tahap-tahap perkembangan.

a. Kelambatan Perkembangan
Penyebab utama kesulitan belajar adalah kematangan, bahwa anak-anak yang lebih muda dan kurang matang dalam suatu tingkat kelas di sekolah akan cenderung mengalami kesulitan belajar yang lebih berat daripada anak yang lebih tua di kelas tersebut.

b. Tahap-Tahapan Perkembangan
Tahapan perkembangan yang berhubungan dengan kesulitan belajar adalah tahapan perkembangan kognitif yang mencakup pikiran dan pemecahan masalah. Masalah belajar pada anak mungkin hanya merupakan suatu kelambatan dalam perkembangan dari proses tertentu.

c. Implikasi Teori Perkembangan bagi Kesulitan Belajar
Teori perkembangan memiliki implikasi yang bermakna untuk memahami dan mengajar anak kesulitan belajar. Lingkungan pendidikan hendaknya memperkuat landasan berpikir anak yang dapat menjadi landasan belajar berikutnya.

2. Aspek Psikologis Behavioral dari Kesulitan Belajar
Guru hendaknya memusatkan perhatian pada keterampilan akademik yang diperlukan oleh anak daripada meusatkan pada kekurangan yang menghambat anak untuk belajar.

a. Analisis Perilaku dan Pembelajarn Langsung
Pembelajaran merupakan pemberian bantuan kepada anak untuk menguasai berbagi subketerampilan yang belum dikuasai. Pembelajaran ini disebut pembelajaran langsung. Dalam pembelajaran langsung suatu perilaku akhir yang diharapkan dari anak dianalisis, guru melakukan evaluasi terhadap anak yang belum menguasai, hingga anak mampu memperlihatkan semua perilaku seperti yang diharapkan.

b. Tahapan-Tahapan Belajar
Dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru perlu menyadari keberadaan anak dalam tahapan belajar. Ada empat tahapan belajar yang perlu diperhatikan yaitu perolehan, kecakapan, pemeliharaan, dan generalisasi. Anak berkesulitan belajar memerlukan banyak dukungan pada tiap tahapan belajar.

c. Implikasi bagi Kesulitan Belajar
Ada beberapa implikasi teori behavioral bagi kesulitan belajar, yaitu pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang efektif, pendekatan pembelajaran langsung dapat digabungkan dengan berbagai pendekatan lain, dan tahapan anak harus dipertimbangkan.

3. Aspek Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar
Melalui kemampuan kognitif tersebut memungkinkan manusia mengetahui, menyadari, mengerti, dan menggunakan abstraksi. Analisis tentang sifat kognitif merupakan hal yang penting untuk memahami kesulitan belajar. Kesulitan belajar memiliki gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang diperlukan untuk belajar disekolah. Proses psikologis berupa kemampuan dalam persepsi, bahasa, ingatan, perhatian, pembentukan konsep, pemecahan masalah, dsb. Ada tiga rancangan pembelajaran yang berbeda yang berasal dari teori ini.
a. Melatih proses yang kurang
b. Mengajar melalui proses yang disukai

c. Pendekatan kombinasi

BUKU RUJUKAN

Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.





Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon