Kajian Tafsir Tematik Konsep Penciptaan dan Akhir Kehidupan Manusia

Kajian Tafsir Tematik Konsep Penciptaan dan Akhir Kehidupan Manusia - Dewasa ini banayak para ilmuan yang membicarakan mengenai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi, sama halnya dengan AlQur’an juga membicarakan perkembangan kehidupan manusia secara ilmiah. Allah dengan kekuasaa-Nya bisa menciptakan makhluk cukup dengan cara “kun fayakun”. Namun sebagai pembelajaraan kepada manusia, Allah menciptakan sesuatu juga dijelaskan proses-prosesnya. Di sini pula, manusia harus sadar bahwa segala sesuatu ada proses-proses perkembangannya, tidak asal jadi (Tim Baitul Kilmah: 2013, 190).

Kajian Tafsir Tematik Konsep Penciptaan dan Akhir Kehidupan Manusia


Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Di lain pihak, banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. Khususnya agama Islam yang meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam disusul Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga menjadi banyak seperti sekarang ini. Hal ini didasarkan pada berita-berita dan informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci masing-masing agama yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama.

A. Konsep Surah Al-Mu’minun Ayat 12 - 16


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤) ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ (١٥) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ (١٦)


Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu se­gumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu Hilang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.


Perhatikan baik-baik konsep penciptaan manusia dibawah ini.


1. Sulalah


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)


Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. Al-Mu’minun : 12)


Tafsir Al-Jalalain


{وَ} اللَّهْ {لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَان} آدَم {مِنْ سُلَالَة} هِيَ مِنْ سَلَلْت الشَّيْء مِنْ الشَّيْء أَيْ اسْتَخْرَجْته مِنْهُ وَهُوَ خُلَاصَته {مِنْ طِين} متعلق بسلالة


(Dan) Allah telah berfirman, (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) yakni Adam (dari suatu sari pati) lafal Sulaalatin berasal dari perkataan Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya aku telah memeras sesuatu daripadanya, yang dimaksud adalah inti sari dari sesuatu itu (berasal dari tanah) lafal Min Thiinin berta'alluq kepada lafal Sulaalatin.


Tafsir Al-Misbah

Hendaknya manusia mengamati asal kejadiannya. Sebab, penciptaan manusia itu termasuk salah satu bukti kekuasaan Kami yang mengharuskan orang-orang untuk beriman kepada Allah­­ dan hari akhir. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.


Kata sulalah dalam ayat tersebut berarti sesuatu yang disarikan dari semua tanah. Kilab berpendapat bahwa dari nuthfah (sperma) yang disarikan dari tanah Adam, lalu dijadikan nuthfah.

Maksudnya, pada awalnya manusia berupa nuthfah yang disimpan dalam tempat yang sangat kukuh (rahim) selama kurun waktu sampai masa tertentu (Abdul Basyid: 2006, 19).

Di ayat ini Allah menyebutkan proses perkembangan manusia dari awal penciptaannya sampai akhir hidupnya. Maksudnya, Adam alaihis salam.

Yakni diambil dari tanah. Oleh karena itulah, keadaan keturunan Adam seperti keadaan tanah, ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang mudah dikelola (diarahkan) dan ada yang keras sebagaimana tanah.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan adanya enam fase terbentuknya janin dalam rahim. Tahap pertama penciptaan janin disebut Sulalah dimulai dari saripati mani.

Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air yang hina (air mani)”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami – istri, tapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan Sulalah.

Menurut riset yang telah diteliti oleh para ahli sekarang, bahwa manusia itu tercipta dari satu sperma saja. Itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan sperma yang keluar dari laki-laki yang mencapai jutaan sperma.

Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin ini, karena satu dari jutaan sperma ini bergerak menuju ke rahim untuk membuahi ovum dari wanita.

Ibnu Abbas berpendapat mengenai kalimat as-sulalah shafwatul ma’. Kata sulalah adalah unsur air yang palin jernih. Menurut Al-Mujahid air tersebut adalah yang berasal dari keturunan Adam.

Ikrimah menambahkan bahwa air tersebut adalah air yang mengalir dari tulang punggung (Abdul Basyid: 2006, 19).

2. Nuthfah


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)


Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh. (QS. Al-Mu’minun : 13)

Tafsir Al-Jalalain.


{ثُمَّ جَعَلْنَاهُ} أَيْ الْإِنْسَان نَسْل آدَم {نُطْفَة} مَنِيًّا {فِي قَرَار مَكِين} هُوَ الرَّحِم

(Kemudian Kami jadikan ia) manusia atau keturunan Adam (dari nuthfah) yakni air mani (yang berada dalam tempat yang kokoh) yaitu rahim.

Tafsir Al-Misbah

Kemudian Kami menciptakan keturunannya. Dari tanah itu, Kami menciptakan sperma--sebuah zat cair yang mengandung segala unsur kehidupan yang bertempat pada rahim, sebuah tempat yang kokoh dan dapat melindungi.

Secara bahasa nuthfah berarti setetes cairan. Kata tersebut telah digunakan dalam Al-Qur’an (Muhammad Ali Albar: 2014, 58). Dalam disiplin ilmu embriologi, nuthfah berarti tetesan air dari dua sel reproduksi laki-laki dan perempuan (Zaghlul An-Najjar: 2011, 410).


Maksudnya, keturunan Adam. Terpelihara dari kerusakan, angin, dsb. Allah telah mendesain Rahim sedemikian rupa sebagai tempat yang kokoh dengan meletakkanya ditengah-tengah tubuh wanita, dibagian pusat rongga (panggul) besar, meliputinya dengan otot-otot, urat, ikatan-ikatan sendi, dan selaput-selaput yang semakin mengokohkannya di dalam tubuh wanita (Zaghlul An-Najjar: 2011, 460).

Sekilas menghubungkan tentang pemikiran Thales bahwa “Air sebagai prinsip dasar segala sesuatu.”

Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar segala sesuatu (Simon Petrus L. Tjahjad: 2004, 21-23). Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di alam semesta (Juhaya S. Praja. 2005, 71-75). Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup (Jonathan Barnes: 2001). Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang (K. Bertens: 1990, 26-28).


3. Alaqah


ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً…


Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah…


Tafsir Al-Jalalain.


{ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَة عَلَقَة} دَمًا جَامِدًا

(Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah) darah kental

Tafsir Al-Misbah

Setelah membuahi ovum, sperma itu Kami jadikan darah.

Secara bahasa alaqah berarti sesuatu yang melekat kepada sesuatu yang lain. Kata alaqah juga dapat berarti lintah. Dalam ilmu kedokteran, lintah terkenal dengan sifat melekatnya pada kulit, yang menghisap darah. Ini sebuah feonomena yang sering digunakan dunia kedokteran sebagai pengobatan tradisional.

Kata alaqah juga memiliki arti yang jarang digunakan dalam bahasa Arab, yaitu darah yang menggumpal atau membeku (Muhammad Ali Albar: 2014, 68).

Kemudian nuthfah berkembang dengan cara membelah dengan cepat menjadi sejumlah sel terkecil, lalu yang terkecil lagi, hingga membentuk gumpalan bulat sel-sel yang disebut dengan nama morula. Kemudian, gumpalan bulat membelah dan membentuk apa yang dikenal dengan istilah tembolok atau kantong keturunan.

Sejak proses pembuahan, sperma yang bercampur, lalu membelah, kemudian membentuk kantong yang bergerak-gerak layaknya tembolok dan menanamkan diri di dinding Rahim. Fase ini dikenal dengan istilah penanaman (implantasi) di dinding Rahim. Lalu beralihlah ke masa gumpalan darah (Zaghul An-Najjar: 2011, 410).

Dalam hal ini, untuk menunjukkan peralihan fase sperma menjadi segumpal darah, Al-Qur’an menggunakan huruf Tsumma yang mana dalam ilmu nahwu memiliki faidah berturut-turut disertai jeda waktu yang lumayan panjang (tidak berlangsung).

4. Mudghah


… فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً…


… lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging …

Tafsir Al-Jalalain


{فَخَلَقْنَا الْعَلَقَة مُضْغَة} لَحْمَة قَدْر مَا يُمْضَغ


(lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan

Tafsir Al-Misbah


Darah itu pun kemudian Kami jadikan sepotong daging yang kemudian Kami bentuk menjadi tulang.

Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Ini hanya baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat-alat fotografi. Mudgah berarti gumpalan yang telah dikunyah, atau sesuatu yang telah dikunyah (Muhammad Ali Albar: 2004, 79). Ada juga dalam terjemahan Al-Qur’an memilih kata morsel of flesh berarti potongan daging (Yusuf Ali, Translation of the Holy Qir’an).

5. Idham


... فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا…

… dan segumpal daging itu Kami jadi kantulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging …

Tafsir Al-Jalalain


{فَخَلَقْنَا الْمُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَام لَحْمًا} وَفِي قِرَاءَة عَظْمًا فِي الْمَوْضِعَيْنِ وَخَلَقْنَا فِي الْمَوَاضِع الثَّلَاث بِمَعْنَى صَيَّرْنَا

(dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut qiraat yang lain lafal 'Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca 'Azhman, yakni dalam bentuk tunggal. Dan lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga tempat tadi bermakna Shayyarnaa, artinya Kami jadikan

Tafsir Al-Misbah

Tulang itu lalu Kami balut dengan daging.


Idham berarti tulang belulang. Dalam tahap ini kerangka janin mulai menyebar, ditandai dengan pergeseran tulang-tulang rawan yang sudah terbetuk pada tahap Mudghah.

Dengan terbentuknya tulang, janin mulai dapat menegakkan batang tubuhnya. Ujung-ujung jarinya sudah mulai menonjol, juga bagian-bagian otaknya.

Setelah sempurnanya peralihan tahap segumpal darah daging ke tahap pembentukan tulang, selanjutnya dimulailah proses pembungkusan tulang-tulang dengan daging (Zaghlul An-Najjar: 2011, 464).

6. Ruh


…ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (۱٤)


Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Tafsir Al-Jalalain


{ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَر} بِنَفْخِ الرُّوح فِيهِ {فَتَبَارَكَ اللَّه أَحْسَن الْخَالِقِينَ} أَيْ الْمُقَدِّرِينَ وَمُمَيَّز أَحْسَن مَحْذُوف لِلْعِلْمِ بِهِ أَيْ خلقا

(kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya. (Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan.


Tafsir Al-Misbah

Setelah itu, Kami menyempurnakan penciptaannya. Akan tetapi, setelah Kami tiupkan roh Kami, ia menjadi makhluk yang durhaka dan melawan asas penciptaannya. Betapa Mahatingginya Allah dalam kemahaagungan dan kemahakuasaan-Nya. Tidak ada yang menyerupai-Nya dalam kemampuan mencipta, membentuk dan berkreasi.

Pada tahapan ini, karakter fisik janin mulai menunjukkan organ-organ dan sistem tubuh yang bekerja sama. Fase pembentukan janin menjadi makhluk lain ini, tulang telah terbungkus dengan daging (otot) dan kulit.

Rasio pertumbuhan mula-mula berjalan lamban, kemudian selang beberapa waktu pertumbuhan semakin cepat. Dengan meniupkan ruh ke dalamnya, sehingga yang sebelumnya makhluk mati menjadi makhluk hidup. Semua ciptaan-Nya baik, namun manusia adalah yang terbaiknya. Setelah berwujud manusia dan ditiupkan ruh.


ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ (١٥)

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (QS. Al-Mu’minun ; 15)


Tafsir Al-Jalalain

{ثم إنكم بعد ذلك لميتون}

(Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati).

Tafsir Al-Misbah

Kemudian kalian, wahai anak cucu Adam, setelah itu semua akan menuju kepada kematian yang pasti.


ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ (١٦)


Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS. Al-Mu’minun : 16)

Tafsir Al-Jalalain


{ثُمَّ إنَّكُمْ يَوْم الْقِيَامَة تُبْعَثُونَ} لِلْحِسَابِ وَالْجَزَاء


(Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan di hari kiamat) untuk menjalani hisab dan pembalasan.

Tafsir Al-Misbah

Setelah itu, kalian akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat untuk perhitungan dan pembalasan.

Untuk dihisab dan diberikan pembalasan.

Sebab Turunnya Surah Al-Mu’minun Ayat 14

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Umar berkata, ”Aku kebetulan cocok dengan Tuhanku dalam empat ayat yang turun. Ketika turun ayat, “ Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, (Al-Mu’minuun: 12) aku berucap, “Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik (Jalaluddin As-Suyuthi: 2008, 385).


B. Konsep Surah Ar-Rum Ayat 30


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (٣٠)


Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30)

Tafsir Al-Jalalain


{فَأَقِمْ} يَا مُحَمَّد {وَجْهك لِلدِّينِ حَنِيفًا} مَائِلًا إلَيْهِ أَيْ أَخْلِصْ دِينك لِلَّهِ أَنْتَ وَمَنْ تبعك {فطرت اللَّه} خَلَقَتْهُ {الَّتِي فَطَرَ النَّاس عَلَيْهَا} وَهِيَ دِينه أَيْ الْزَمُوهَا {لَا تَبْدِيل لِخَلْقِ اللَّه} لِدِينِهِ أَيْ لَا تُبَدِّلُوهُ بِأَنْ تُشْرِكُوا {ذَلِكَ الدِّين الْقَيِّم} الْمُسْتَقِيم تَوْحِيد اللَّه {وَلَكِنَّ أَكْثَر النَّاس} أَيْ كُفَّار مَكَّة {لَا يَعْلَمُونَ} تَوْحِيد الله


(Maka hadapkanlah) hai Muhammad (wajahmu dengan lurus kepada agama Allah) maksudnya cenderungkanlah dirimu kepada agama Allah, yaitu dengan cara mengikhlaskan dirimu dan orang-orang yang mengikutimu di dalam menjalankan agama-Nya (fitrah Allah) ciptaan-Nya (yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) yakni agama-Nya. Makna yang dimaksud ialah, tetaplah atas fitrah atau agama Allah. (Tidak ada perubahan pada fitrah Allah) pada agama-Nya. Maksudnya janganlah kalian menggantinya, misalnya menyekutukan-Nya. (Itulah agama yang lurus) agama tauhid itulah agama yang lurus (tetapi kebanyakan manusia) yakni orang-orang kafir Mekah (tidak mengetahui) ketauhidan atau keesaan Allah.

Tafsir Al-Misbah


Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.

Tafsir Ibnu Katsir


{لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ}


Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar-Rum: 30)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah 'janganlah kalian mengubah ciptaan Allah, karenanya kalian mengubah manusia dari fitrah mereka yang telah dibekalkan oleh Allah kepada mereka.' Dengan demikian, berarti kalimat ini merupakan kalimat berita, tetapi bermakna perintah.


Ini merupakan pendapat yang baik dan sahih. Ulama tafsir lainnya mengatakan bahwa makna ayat ini adalah kalimat berita sesuai dengan apa adanya, yang berarti bahwa Allah Swt. memberikan fitrah-Nya secara sama rata di antara semua makhluk-Nya, yaitu fitrah (pembawaan) yang lurus. Tiada seorang pun yang dilahirkan melainkan dibekali dengan fitrah tersebut dalam kadar yang sama dengan yang lain, tiada perbedaan di antara manusia dalam hal ini.


Karena itulah Ibnu Abbas, Ibrahim An-Nakha'i, Sa'id ibnu Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar-Rum: 30) Yakni agama Allah.


Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar-Rum: 30) Yaitu agama Allah; fitrah orang-orang dahulu artinya agama orang-orang dahulu, agama dan fitrah maksudnya ialah Islam.


حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانه أَوْ يُنَصِّرانه أَوْ يُمَجسانه، كَمَا تَنْتِج الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ"؟ ثُمَّ يَقُولُ: {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}


“Telah menceritakan kepada kami Abdan, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, bahwa Abu Hurairah r.a. pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nasrani atau Majusi. Sama halnya dengan hewan ternak yang melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, maka apakah kalian melihat adanya kecacatan pada anak hewan itu. Setelah itu Nabi Saw. membacakan firman Allah Swt.: (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; (Ar-Rum: 30).”


{ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}


(Itulah) agama yang lurus. (Ar-Rum: 30)

Yakni berpegang kepada syariat dan fitrah yang utuh merupakan agama yang tegak dan lurus.


{وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ}


tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rum: 30)

Karena itulah maka kebanyakan orang tidak mengetahuinya, dan mereka berpaling darinya.




DAFTAR PUSTAKA


Albar, Muhammad Ali, Penciptaan Manusia. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004.


Ali, Yusuf, Translation of the Holy Qur’an. Qatar National Printing Press.


Al-Mahalliy, Imam Jalaluddin, Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Penerbit Sinar Baru, 1990.


An-Najjar, Zaghlul, Sains Dalam Hadits. Jakarta: Amzah, 2011.


As-Suyuthi, Jalaluddin, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani, 2008.


Jonathan, Barnes, Early Greek Philosophy. London: Penguin, 2001.


Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana, 2005.


Katsir, Ibnu, Tafsir Ibun Katsir. Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2003.


K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius, 1990


Sayyid, Abdul Basith Muhammad, Rasulullah Sang Dokter. Solo: Tiga Serangkai, 2006.


Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.


Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.


Syihab, Quraisy, Tafsir Al-Mishbah


Tim Baitul Kilmah, Ensiklopedia Pengetahuan Al-Qur’an dan Hadis Jilid 4. Jakarta: Kamil Pustaka, 2013.




Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon