Evaluasi Kurikulum

Evaluasi Kurikulum - Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang tidak dapat terlepas dalam proses pendidikan yang berlangsung. Dalam kurikulum sendiri terdapat komponen yang menunjang berkembangnya kurikulum tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Salah salah yang menunjang adalah evaluasi kurikulum, evaluasi sendiri diartikan sebagai proses sistematis yang digunakan untuk memeriksa kurikulum dan pertimbangan keputusan untuk kurikulum.

Evaluasi Kurikulum


Evaluasi diperlukan untuk memeriksa apakah kurikulu berjalan dengan baik atau tidak. Beberapa yang dievalusi dalam kurikulum antara lain evaluasi produk atau hasil dari kurikulum tersebut, isi atau materi, bimbingan yang dilakukan, metode atau strategi yang dilakukan. Pemakalah ingin memaparkan sedikit mengenai evaluasi kurikulumuntuk menambah pengetahuan pemabaca.

Pengertian Evaluasi

Pengertian evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input) keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. [1] Permendikbud Nomor 159 Tahun 2014 menjelaskan bahwa evaluasi kurikulum adalah serangkaian kegiatan terencana, sistematis dalam mengumpulkan dan mengolah informasi, memberikan pertimbangan keputusan untuk menyempurnakan kurikulum.[2] Dari pengertian di atas evaluasi kurikulum diartikan sebagai proses sistematis yang digunakan untuk memeriksa kurikulum dan pertimbangan keputusan untuk kurikulum.

Evaluasi Produk

Evaluasi terkait dengan pengukuran terhadap hasil-hasil program dengan tujuan yang hendak dicapai. Komponen-komponen yang dievaluasi tergantung pada tujuan, misalnya prestasi belajar peserta didik, perubahan sikap peserta didik, perbaikan kemampuan sekolah, perbaikan tingkat kehadiran peserta didik, dan terhadap komponen lainnya yang diharapkan berubah.

Evaluasi kurikulum hendaknya melaksanakan semua komponen tersebut. Namun sering terjadi keadaan yang tidak memungkinkan semua komponen mendapat perhatian sepenuhnya mengingat faktor waktu, personel, dan sumber-sumber lain sehingga hanya diperhatikan satu atau dua komponen saja. Pengelola program harus pandai menilai aspek proyek mana yang paling penting mendapat perhatian secara intensif. Berdasarkan evaluasi, dapat diperoleh data atau informasi yang cukup valid dan reliabel dalam rangka pembuatan keputusan dan program perbaikan.[3]

Untuk itu lembaga hendaknya mengembangkan suatu model evaluasi yang dikenal dengan Systematic Procces for Evaluating Change (SPEC). Sistem ini menyajikan suatu pendekatan terhadap pemecahan masalah dan mengajukan gagasan agar keseluruhan sistem berjalan lancar, teratur, efisien, dan efektif.[4]

Proses Sistematis Penilaian Perubahan[5]


PROSES SISTEMATIS PENILAIAN PERUBAHAN
Komponen Evaluasi
Produk
Untuk mengukur hasil-hasil program sehubungan dengan tujuan
Identifikasi Kebutuhan Informasi
Proyek hasil-hasil
-          Prestasi
-          Sikap
-          Kurikulum yang dikembangkan
Prosedur operasi dan pengelolaan
-          Cost efectiveness
Kriteria Keputusan
Prestasi yang diinginkan
Perkembangan yang diinginkan
Sikap yang diinginkan
Kurikulum yang diinginkan
Pengumpulan Data
Tes baku
Tingkat siswa
Skala sikap
Tingkat kehadiran
Tingkat putus sekolah
Tes lokal
Organisasi Data
Manual/Komputer
-          Program umum dan program khusus
Analisis Data Laporan
Analisis statistik
Pra-Pasca
Kontrol eskperimental
Analisis isi, Analisis populasi
Akunting
Laporan
Laporan formal:
-          Tertulis
-          Tabular
-          Statistik
Laporan informal:
-          Kelompok
-          Individual
-          Statistik
Diseminasi laporan


  

















































Tujuan

Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan. Indikator kinerja yang dievaluasi adalah efektifitas, relevansi, efisiensi, dan kelayakan program. Evaluasi bertujuan memeriksa tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan.

Selain bertujuan memeriksa, tujuan melakukannya evaluasi adalah untuk membantu para pengambil keputusan dan bukanlah tugas evaluasi untuk menentukan atau mengambil keputusan. Oleh karena itu pekerjaan evaluasi untuk memberikan berbagai informasi mengenai kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan kurikulum (curriculum contruction), pelaksanaan kurikulum (curriculum implementation) dan pelaksanaan evaluasi kurikulum (curriculum evaluation).

Tujuan berikutnya yaitu mengembangkan berbagai alternative pemecahan masalah bukan berarti bahwa evaluator bertindak sebagai pegambil keputusan, evaluator bukan pengambilan keputusan dan bukan pula haru mengambil keputusan. Evaluator memang memberikan pertimbangan untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu kurikulum tetapi keputusan tentang kegagalan itu akhirnya adalah wewenang pengambilan keputusan. Evaluator yang menggunakan tujuan evaluasi ini memang mengembangkan berbagai alternative untuk upaya perbaikan kurikulum tetapi evaluator hanya dalam posisi mengembangkan alternative solusi tersebut. Tindakan apa atau solusi apa yang akan ditentukan untuk memperbaiki kurikulum adalah hak para pengammbil keputusan.[6]

Secara garis besar, konsep atau model evaluasi yang telah dikembangkan selama ini dapat digolongkan dalam rumpun model berikut.[7]


1. Measurement; pengukuran perilaku peserta didik untuk mengungkapkan perbedaan individu atau kelompok. Dalam model ini, evaluasi bertujuan untuk mengukur perilaku siswa untuk mengungkapkan perbedaan individual maupun kelompok. Hasil evaluasi digunakan untuk keperluan seleksi siswa, bimbingan pendidikan dan perbandingan efektivitas antara dua atau lebih program metode pendidikan.[8]

2. Congruence; pemeriksaan kesesuaian antara tujuan pendidikan dan hasil belajar yang dicapai, untuk melihat sejauh mana perubahan hasil pendidikan yang telah tercapai.

Isi atau Materi

Evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebagai dasar perubahan keputusan. Konsep ini digunakan untuk menilai bahan pengajaran. Suatu bahan pengajaran yang telah tersusun sesungguhnya masih merupakan bahan mentah, belum siap digunakan, dan masih perlu dinilai kelebihan dan kekurangan. Setelah diadakan penilaian, selanjutnya perlu diadkan perbaikan dan pengadaan bahan pengajaran untuk mata pelajaran tertentu serta bagi peserta didik tertentu. Untuk memperoleh suatu bahan pengajaran yang memadai, membutuhkan proses yang cukup panjang.

Dalam posedur demikian, kegiatan evaluasi menempati posisi yang cukup penting. Sebab untuk memperbaiki konsep buku sumber atau bahan ajar dan selanjutnya menyempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Evaluasi terhadap bahan ajar dalam garis besar berfungsi sebagai; kurikuler, intruksional, diagnosis dan perbaikan, dan administratif.[9]


1. Kurikuler; untuk mengetahui kesesuaian isi atau materi dengan tuntutan kurikulum atau paket program latihan tertentu seperti tujuan, pengalaman belajar, pokok atau subpokok bahasan, metode dan media, serta waktu pertemuan.

2. Instruksional; untuk mengetahui sampai mana isi atau bahan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pengajaran, terutama dalam rangka mencapai tujuan instruksional.

3. Diagnosis; untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan rinci tentang isi buku tersebut. Untuk melakukan perbaikan pada bahan pengajaran.

4. Administratif; mengevaluasi terhadap bahan pengajaran terkait dengan kegiatan perencanaan, kepengawasan, dan pemantauan terhadap bahan pengajaran tersebut.

Tujuan evaluasi bahan pengajaran atau buku sumber yaitu untuk memilih bahan pengajaran mana yang sebaiknya digunakan sebagai sumber bahan belajar, mengamati apakah penggunaan sumber bahan sesuai prosedur, memeriksa ketercapaian tujuan penggunaan bahan pengajaran, mengetahui tingkat kemampuan pendidik dalam menggunakan bahan pengajaran, dan memperbaiki bahan pengajaran itu sendiri.[10]

Bimbingan

Menurut Prayitno dan Erman Amti dalam Rini Suwandi Raharjeng dan Elisabeth Christiana bahwa bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar, karir, agama, dan keluarga yang diselenggarakan melalui sembilan layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.

ABKIN dalam Rini Suwandi Raharjeng dan Elisabeth Christiana juga menyatakan bahwa pelayanan arah peminatan peserta didik merupakan upaya untuk membantu peserta didik dalam memilih dan menjalani program atau kegiatan studi dan mencapai hasil sesuai dengan kecenderungan hati atau keinginan yang cukup atau bahkan sangat kuat terkait dengan program pendidikan/pembelajaran yang diikuti pada satuan pendidikan dasar dan menengah.[11]

Dari pengertian di atas jika dihubungkan dengan evaluasi, maka Evaluasi pelayanan peminatan peserta didik merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan pelayanan itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi bimbingan bersangkutan dengan pelayanan yang dilakukan sudah mencapai tujuan yang ditetapkan atau tidak.

Metode atau Strategi

Evaluasi sebagai kegiatan yang digunakan untuk pengukuran dan penilaian. Evaluasi sebagai sesuatu yang amat penting, karena memberikan informasi dalam proses pembuatan keputusan. Strategi evaluasi dikembangkan berdasarkan asumsi.[12]

Dalam hubungan ini ada beberapa jenis keputusan pendidikan yang perlu dipertimbangkan dalam menilai instruksional, yakni:[13]

1. Keputusan-keputusan yang ditujukan kepada perbaikan
2. Keputusan-keputusan pemrograman memperhatikan prosedur, personel, fasilitas, anggaran biaya.
3. Keputusan-keputusan pelaksanaan mengarahkan kegiatan yang telah deprogram.

Sejalan dengan keputusan diatas, maka juga terdapat beberapa jenis strategi evaluasi, yakni:[14]

1. Strategi pertama terdiri dari penentuan lingkungan di mana perubahan terjadi, terdapat kebutuhan-kebutuhan yang tidak atau belum terpenuhi, dan berbagai masalah yang timbul.
2. Strategi kedua terdiri dari pengenalan dan penilaian terhadap kemampuan-kemampuan yang relevan.
3. Strategi ketiga terdiri dari pendekatan dan prediksi hambatan-hambatan yang mungkin terjadi.
4. Strategi keempat terdiri dari penentuan keefektifan proyek yang telah dilaksanakan dengan mngukur hasil-hasil yang telah dicapai.


Kesimpulan

Evaluasi kurikulum diartikan sebagai proses sistematis yang digunakan untuk memeriksa kurikulum dan pertimbangan keputusan untuk kurikulum. Evaluasi produk evaluasi terkait dengan pengukuran terhadap hasil-hasil program dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja. Evaluasi isi dimaksudkan untuk menilai bahan pengajaran. Evaluasi pelayanan peminatan peserta didik merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan pelayanan itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi strategi digunakan untuk mengembangakn kurikulum ketahap lanjut. Strategi evaluasi dikembangkan berdasarkan asumsi. Lalu dibagi menjadi 4 yakni 1) Penentuan lingkungan di mana perubahan terjadi, terdapat kebutuhan-kebutuhan yang tidak atau belum terpenuhi, dan berbagai masalah yang timbul. 2) Strategi kedua terdiri dari pengenalan dan penilaian terhadap kemampuan-kemampuan yang relevan. 3) Strategi ketiga terdiri dari pendekatan dan prediksi hambatan-hambatan yang mungkin terjadi. 4) Strategi keempat terdiri dari penentuan keefektifan proyek yang telah dilaksanakan dengan mngukur hasil-hasil yang telah dicapai.




DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar, Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.
Hamid, Hamdani, Pengembangan Kurikulum Bandung: Pustaka Setia, 2012.
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo, 2014.
Raharjeng, Rini Suwandi dan Elisabeth Christiana,  Implementasi Kurikulum 2013 Bimbingan dan Konseling Dalam Pelaksanaan Layanan Peminatan Peserta Didik SMA Negeri 2 Lamongan Tahun Ajaran 2013/2014, Jurnal BK.. Volume 04 Nomor 03 Tahun 2014.
Tim Pengembangan MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Rajawali, 2011.
Triwiyanto, Teguh,  Manajamen Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2015.



[1]Teguh Triwiyanto,  Manajamen Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), 183.
[2] Ibid., 186.
[3] Oemar Hamalik, Evaluasi Kurikulum. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), 31.
[4] Ibid., 27.
[5] Ibid., 29.
[6]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2014), 9.
[7] Hamdani Hamid, Pengembangan Kurikulum (Bandung: Pustaka Setia, 2012), 202.
[8] Tim Pengembangan MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali, 2011)112.
[9] Hamalik, Evaluasi, 88-89.
[10] Ibid., 90.
[11]Rini Suwandi Raharjeng dan Elisabeth Christiana,  Implementasi Kurikulum 2013 Bimbingan dan Konseling Dalam Pelaksanaan Layanan Peminatan Peserta Didik SMA Negeri 2 Lamongan Tahun Ajaran 2013/2014, (Jurnal BK.. Volume 04 Nomor 03 Tahun 2014), 2.
[12]Hamalik, Evaluasi., 24.
[13] Ibid., 25.
[14] Ibid.,


Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon