Materi Pembelajaran Dalam Filsafat Pendidikan Islam

Materi Pembelajaran Dalam Filsafat Pendidikan Islam - Secara teoritis, materi pembelajaran merupakan bahan ajar, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik untuk pembentukan pengetahuan dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan.


Materi Pembelajaran Dalam Filsafat Pendidikan Islam


Materi Pembelajaran Pada Masa Rasulullah

Materi pembelajaran yang diajarkan pada masa Rasulullah, sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an yang mengandung pesan-pesan dari Tuhan mengenai persoalan agama. Dalam hal ini terbagi menjadi dua periode, yakni periode mekkkah dan madinah yang meliputi materi tauhid, ibadah, akhlak, fikih, penguasaan bahasa, dan materi keperempuanan.

Pemikiran Filosof Muslim

Ada beberapa pemikiran dari filsuf muslim mengenai materi pembelajaran, sebagai berikut:
1. Al Ghazali
Mangenai materi pembelajaran al-Ghazali berpendapat bahwa al-Qur’an beserta kandungannya merupakan ilmu pengetahuan. Isinya bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua macam, yaitu yang pertama; ilmu syar’iyyah adalah semua ilmu yang berasal dari Rasulullah, dan yang kedua; ilmu ghairu syar’iyyah adalah semua ilmu yang berasal dari ijitihad ulama atau intelektual muslim.
Dilihat dari sifatnya ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua, yaitu: ilmu yang terpuji (mahmudah) dan ilmu tercela (mazmumah). Menurut pandangan al-Ghazali, ilmu pengetahuan yang terpuji wajib dipelajari, sementara ilmu pengetahuan yang tercela wajib dihindari oeh peserta didik.

2. Al Qabisi
Materi pembelajaran yang termuat dalam kurikulum menurut al-Qabisi terbagi menjadi dua macam, yakni:
a. Kurikulum Ijbari
Kurikulum yang wajib bagi setiap peserta didik. Isi kurikulumnya mengenai kandungan ayat al-Qur’an, seperti shalat dan doa-doa. Dan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan bahasa arab merupakan prasyarat mutlak untuk memantapkan bacaan al-Qur’an.
b. Kurikulum Ikhtiyari
Kurikulum yang tidak wajib atau pilihan yang memuat ilmu hitung, dan seluruh ilmu nahwu, bahasa arab, syi’ir, kisah masyarakat, sejarah, dan keterampilan peserta didik.

3. Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun menyatakan bahwa peserta didik sebaiknya tidak belajar dua bidang ilmu dalam satu waktu sekaligus. Karena akan membuat peserta didik tidak fokus dalam satu bidang ilmu. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa memfokuskan pada satu bidang ilmu akan memberi pemahaman yang lebih baik. Setelah selesai mengkaji bidang ilmu yang pertama barulah pindah ke bidang ilmu selanjutnya. Ibnu Khaldun membagi materi pembelajaran menjadi dua bagian, yaitu ilmu-ilmu yang bersifat naqliyyah (tekstual) dan ilmu-ilmu yang bersifat aqliyyah (rasional).

4. Ibnu Sina
Materi pembelajaran menekankan kepada penguasaan terhadap materi al-Qur’an dan bahasa dahulu kemudian ke materi lainnya.

5. Naquib Al Attas
Menurut pandangan Naquib al Attas, membagi materi pembelajaran sesuai dengan tingkatan usia. Materi yang diajarkan pada usia anak meliputi al-Qur’an dan Tauhid, serta usia dewasa meliputi sains, filsafat, sosial-humaniora.

Materi Pembelajaran Kontemporer

Materi pembelajaran menurut Ahmad Dahlan, meliputi al-Qur’an dan Hadits; serta membaca, menulis dan menghitung. Ada empat pokok yang perlu dijadikan materi pembelajaran, yaitu iman, ilmu, akhlak, dan amal shaleh.

1. Iman; pengakuan akan kebenaran yang disertai kemantapan pikiran dan perasaan. Berisi iman kepada Allah, hal-hal ghaib, kitab-kitab, para utusan, dan hari akhir.
2. Ilmu; tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi yang dibekali dengan ilmu pengetahuan yang didalamnya mengandung ilmu kedokteran, geografi, matematika, dsb.
3. Akhlak; menganjurkan manusia untuk berakhlak mulia yang merupakan salah satu misi penting Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak.
4. Amal Shaleh; mendorong manusia untuk beamal shaleh sebagai manifestasi dari pengakuan seorang mukmin akan kebenaran iman, ilmu, dan akhlak.


Jangan cuma baca tapi komentar juga

Emoticon